Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

2/20/2016

Apakah Kita Melihat ke Arah yang Salah?

Minggu lalu saya makan bersama teman-teman wanita saya. Kebetulan kita semua single, dan mulai membicarakan siapa2 yang kita temui selama ini. Kebanyakan kita ketemu dengan orang-orang yang, yah, tidak bisa diharapkan untuk menjadi pasangan hidup.

Apakah Kita Melihat ke Arah yang Salah?

Salah satu teman saya yang akan berulang tahun ke 50 kemudian memberikan komentar. Cukup menarik komentarnya. Begini:

“Mungkin selama ini kita mengarahkan pandangan kita ke arah yang salah dalam mencari pasangan. Kadang kita ingin pasangan yang ganteng, sukses, berhasil, padahal mungin orang-orang yang biasa saja yang justru bisa membuat hidup kita lebih tenang.

Misalnya, cowok yang kamu ketemu di gym dan selalu mematut-matut dirinya di depan kaca. Dia mingkin cowok idaman kamu, yang akhirnya akan menyakiti kamu karena dia tidak terlalu peduli dengan kamu karena sibuk mengagumi dirinya sendiri. “

“Bisa jadi cowok yang biasa2 saja yang berusaha keras untuk menjadi yang baik yang justru adalah cowok yang baik untuk kita. Mereka yang biasa dan bersahaja yang justru lebih menarik karena banyak perjuangan hidupnya”.

Nah. Apakah kita selalu mencari di kol yang salah? Di tempat di mana cowok-cowok yang keren, kaya, berhasil berkumpul? Cowok-cowok yang terlalu cinta pada diri mereka sendiri? Atau apakah kita mau melirik sedikit ke arah cowok-cowok yang biasa-biasa saja, yang mungkin mempunyai satu atau dua point yang menarik dan berkualitas?

2/19/2016

Cerai, Diselamati?

Kemarin saya buka group di blackberry saya. Isinya teman2 SMP saya, geng main saya yang perempuan semua. Baru2 ini ada seorang teman yang sedang mengajukan cerai.

Cerai, Diselamati?

Dan, yang menarik, banyak dari teman-teman saya yang mengucapkan, “Congratulations ya…” kepada teman yang akan cerai ini. Hmmh, apakah perceraian itu memang sebuah pencapaian prestasi sehingga perlu diselamati?

Memang di group ini banyak yang perkawinannya, terutama yang pertama, gagal. Ada yang menikah kembali. Ada yang tetap single seperti saya. Ada juga janda ditinggal mati. Saya, yang janda cerai saja, waktu mengambil keputusan cerai rasanya dunia mau runtuh karena merasa gagal.

Mungkin beda kalau suami tukang pukul atau tidak pernah memberi nafkah lahir batin kepada kita, keberanian untuk berpisah mungkin patut untuk diselamati. Itupun saya rasa agak aneh, karena pastinya tidak ada orang yang kawin untuk kemudian bercerai.

Jadi, fenomena ini aneh. Apakah memang teman2 saya merasa bahwa mereka menyesal menikah? Apakah pernikahan itu begitu gelapnya sehingga ketika perkawinan itu berakhir rasanya lega dan perlu diselamati?

2/18/2016

Kawin, Cerai dan Anak

Kemarin malam saya berbicara lama sekali dengan sahabat saya, sebutlah namanya X. Si X ini statusnya menikah dengan anak satu, sudah hampir 20 tahun menikah. Kalau saya perhatikan, dia jarang sekali di rumah.

Kawin, Cerai dan Anak

Kalau pulang ke rumah, mampir dulu, entah berorganisasi, ketemu teman, baru sampai di rumah jam 12 malam. Kalau weekend, sama juga, tidak ada di rumah, malah sering menginap dan kumpul dengan teman2 lain yang jauh lebih muda dari dirinya sendiri (misalnya dengan ikatan alumni2nya dia).

Sebagai teman, saya bertanya, kok kamu seperti yang tidak betah di rumah sih? Saya memang sudah tahu kalau dia dan istrinya sudah tidak harmonis lagi, sampai2 sudah tidak berhubungan badan semenjak anak pertamanya lahir (waduh, gemana itu?). Dia juga termasuk suami2 yang tidak bisa bicara dengan istrinya (yang cantik), maksudnya, berdiskusi yang intelektual dan agak ‘dalam’, sehingga mencari teman2nya untuk teman ngobrol.

Sebagai teman juga, saya tanya bagaimana istrinya ditinggal2 begitu sementara suaminya kesana kemari bergaul. Dan setelah sekian lama pisah ranjang dan tidak ngobrol, kan jadi pertanyaan orang2, kok sering banget sendiri di luar rumah tanpa pasangan.

Alasannya adalah anak. Dia takut anaknya, yang sudah remaja ini, menjadi minder. Dia takut, sebagaimana banyaknya ketakutan orang tua, kalau dia cerai, anaknya secara psikologis akan terganggu.

Nah, saya balik bertanya. Apakah sebagai seorang anak, tidak tahu kalau orangtuanya mempunyai masalah perkawinan? Apakah seorang anak tidak bertanya2 ketika seorang bapak tidak pernah ada di rumah? Ketika orangtua tidak pernah bicara, ketika hubungan orangtua dingin, apakah seorang anak tidak merasa ada yang tidak beres dengan keluarganya?

Dan pertanyaan saya kepada teman saya: apakah status kamu sekarang lebih baik untuk perkembangan psikologis anak kamu dibandingkan kalau kamu berpisah baik2 dengan istri kamu?

Dia diam dan berpikir.

Saya lanjutkan lagi, bahwa dibalik dirinya yang tidak mau menyakiti orang2 di sekitarnya dan keluarga besarnya, sebenarnya dia berlaku tidak adil terhadap istrinya yang cantik. Coba pikir, berapa lama istrinya, yang mungkin punya kesempatan untuk ketemu orang lain dan kawin lagi, hidup dengan menahan ketidak bahagiaan, dan lagi2, mungkin demi anak?

Rasanya ngga fair ya, dengan dalih berkorban menyalahkan anak. Kasihan bener itu anak. Dan anak juga manusia, mereka juga tahu kalau orangtuanya bermasalah. Saya tidak mempunyai anak, tetapi saya pernah menjadi anak. Dan saya merasa kalau orangtua saya sedang ada masalah atau hanya brantem2 kecil saja.

Dan saya bisa merasakan kasih sayang antara mereka, yang mana mempengaruhi bagaimana sebuah perkawinan itu seharusnya. Nah, kalau orangtuanya sudah tidak harmonis, bagaimana si anak tahu keluarga yang harmonis itu bagaimana?

Saya pernah mendengan seorang teman asing yang mengatakan, in marriage, you either grow together or grow apart. Dalam perkawinan, kita tumbuh bersama, atau tumbuh sendiri-sendiri. Kalau sudah satu ke kanan dan satu ke kiri, apakah perkawinan harus dipertahankan demi status?

Saya jadi ingat juga perkataan teman saya mengenai perkawinan dan anak. Bahwa janganlah anak menjadi alasan untuk kawin, dan jangan pula anak dijadikan alasan untuk tidak bercerai karena tidak bahagia.

Menurut saya, ungkapan teman saya ini benar sekali. Karena anak bukanlah barang atau object tetapi seorang manusia juga. Keputusan yang kita ambil, pasti anak yang menjadi korban. Kita harus siap untuk jujur kepada anak.

Kalau kita tidak bahagia, bagaimana orang di sekitar kita akan bahagia?

2/17/2016

Menikmati Hidup

Wah, sudah lama tidak menulis di blog ini. Masalahnya, selain sibuk, sedang tidak ada insipirasi. Sibuknya sibuk di kantor dan sibuk cuti (baru pulang dari Halmahera Barat). Inspirasinya kok ya ndak ada buat menulis….

Catatan Tentang Menikmati hidup


Tapi saya coba tulis ya, mengenai status saya sekarang ini: saya sedang tidak jatuh cinta pada siapapun juga. Rasanya belakangan ini banyak sih orang2 yang menarik, ganteng, baik, tapi ujung2nya semua jadi temen karena saya tidak ada perasaan apa2 tuh sama mereka.

Bagaimana rasanya tidak merasakan cinta kepada siapapun?

Rasanya bebas banget. Ngga ada ketergantungan harus telepon si dia tiap hari. Tidak ada rasa salah kalau pulang malam. Tidak menerima telepon atau SMS menanyakan saya ada di mana, sedang apa, makan apa. Kalau mau cuti tinggal angkat koper dan berangkat. Tidak ada rasa bersalah kalau sedang bicara atau sedikit dekat dengan cowok kalau sedang pesta.

Intinya, secara batin, rasanya bebas.

Tidak tahu ya, 2 tahun belakangan ini rasanya hatinya kebas, ngga tertarik sama yang namanya cowok. Ada sih yang melipir-melipir ke arah saya, tetapi akhirnya ya jadi temen, karena, ya itu tadi, rasanya perasaan sudah kebas sehingga tidak ada perasaan seperti, “Dia telpon saya apa ngga ya?”, “Dia seneng sama saya apa ngga ya?”…rasanya cuek aja gitu, terserah dia mau apa, saya mah menikmati suasana yang ada sekarang saja.

Kenapa ya begitu? Apa belum ketemu sama yang cocok aja? Apa memang pada umur2 tertentu, hati kita menjadi kebas? Apa hormon berpengaruh sama ketertarikan kita terhadap lawan jenis ya?

Yang penting sekarang sih saya menikmati apa yang ada saja. Ada 3 anjing di rumah ditambah 2 orang anak asuh. Itu sudah membuat rumah saya ramai dan seru. Teman selalu ada: teman menyelam, teman jalan2, teman curhat (walau bingung apa yang mau dicurhatin), teman Zumba, teman ngopi. Teman perempuan maupun teman laki2. Rasanya hidup ini sudah komplit, walaupun banyak dari pembaca yang bilang hidup ini tidak komplit kalau tidak ada suami dan anak.

Nih. Dari sekian banyak suami istri yang saya kenal, lebih dari 50% tidak merasa betah di rumah dan memimpikan hidup sendiri.

Terus, saya hanya perlu bersyukur bukan?

2/16/2016

Para Suami yang Tak Bicara

Sebetulnya berlaku sama dengan istri2 yang tidak bisa komunikasi dengan suami2 mereka, tetapi biasanya perempuan itu lebih expresif dan ingin bicara, sementara suami2 mereka yang malas mendengar.

Para Suami yang Tak Bicara

Tulisan ini terinspirasi karena saya mendapatkan SMS dari seorang sahabat baik saya, seorang laki2 yang sudah menikah lama sekali, dan ingin curhat mengenai pekerjaan kepada saya. Terbit pertanyaan, kenapa sampai harus bicara dengan orang luar mengenai masalahnya, kan istrinya ada?

Alasannya ketika ditanya adalah, “Istri gue ngga enak diajak ngomong, ngga bisa diajak bicara”. Waduh. Apa mereka merendahkan kemampuan intelektualitas sang istri yang memang ibu rumah tangga biasa? Atau memang komunikasi mereka buruk? Kalau “level” istrinya berbeda dengan “level” intelektualitas dia, itu salahnya siapa?

Mereka bukan curhat mengenai istrinya dan masalahnya…ya, ada juga sih yang curhat karena istrinya boros, ngga pedulian dengan pasangannya. Tetapi ini masalah2 yang sebenarnya bisa diomongin sama istri mereka kok ya malah diskusinya sama perempuan lain. Misalnya, masalah penyakitnya, atau masalah kantor.

Seingat saya sih, bapak dan ibu saya bicara soal segala macam persoalan, entah rumah tangga, anak, bahkan kantor. Walaupun ibu saya bukan orang minyak, tapi dia bisa mendengarkan keluh kesah bapak saya yang stress. Atau bapak saya bukan seorang dokter, tapi bisa memberikan solusi apa yang musti dilakukan. Mungkin karena orang luar, sehingga bisa obyektif memberikan saran.

Kembali ke suami2 yang tidak bisa bicara dengan istri. Kadang2 mereka berkeluh kesah tentang istri mereka yang terlalu boros. Ada yang komplain istrinya tidak perduli sama suami, kalau suami pulang, dia malah pergi dan meninggalkan anaknya untuk diurus babysitter, yang pulang pas suami pulang kerja juga.

Lha, kok komplainnya ke saya, ya ngomong dong sama yang bersangkutan. Kalau digitukan, mereka bilang, “Sudah beberapa kali dibilangin tetapi tidak mau mendengar, capek deh gue”. Lha, masa’ orang lain yang musti ngomong ke istrinya?

Kenapa sih suami2 tidak bisa ngobrol dengan istrinya? Tidak bisa komunikasi dengan istrinya, malah komunikasi dengan teman perempuannya? Saya saja suka malas kalau bicara soal masalah saya sama laki2 yang sudah ada istri, karena takut menyita waktu keluarganya.

Kecuali kalau lagi kumpul ramai2, biasanya sekelebat2 curcol dikit2lah, tapi lebih enak curhat sama temen perempuan deh rasanya. Lebih aman, tidak mengundang gossip..maklum, janda itu digosipinnya macem2.

Hai, suami2 yang tidak bisa ngobrol dengan istrinya selain, “Anak2 sudah tidur?”, “Hari ini masak apa, Bu?”, apa yang salah dengan hubungan kalian sehingga kalian tidak bisa saling cerita? Jangan salahkan tingkat pendidikan istri ya, kalian yang memilih mereka waktu menikah. Apa memilih hanya karena cantik saja?

Suka merasa kasihan sama istri2 yang suami2nya lebih memilih bicara dengan orang lain karena istrinya tidak bisa diajak ngomong. Padahal, kalau saya punya pasangan, yang nomor satu saya cari adalah yang bisa saya ajak bicara mengenai apapun juga. Entah senang, entah sedih, entah masalah, entah pekerjaan.

Pada mikir apa ya, pas kawin dulu?

2/15/2016

Yang terbaik untuk Al

Di rumah saya, selain ada 3 ekor anjing, ada dua orang lagi yang ikut dengan saya. Kalau orang lain menyebut pembantu mereka pembantu atau babu atau pembokat, kalau saya melihat Al lebih dari sekedar pembantu.

Yang terbaik untuk Al

Al lebih sebagai asisten pribadi, yang bagi saya sudah seperti keluarga saya sendiri. Al dan suaminya tinggal di rumah saya yang mungil ini sekarang. Sudah hampir 5 tahun Al ikut dengan saya, dan sekarang Al ingin membangun keluarganya sendiri. Rasanya sedih, senang, bangga, ngga rela, segala macam deh.

Ceritanya begini. Al tadinya ikut teman saya yang mengontrak rumah ini sebelum saya. Teman saya pindah ke Dubai, dan Al akhirnya ikut saya.

Tugasnya Al sama seperti tugas pembantu2 yang lain: mencuci, memasak, membersihkan rumah. Tetapi Al ini pandai dan cekatan serta disiplin. Kalau dibelikan buku masakan, dia suka mencoba masakan baru. Kalau ada yang kurang bersih, dia inisiatif membersihkan dan merapihkan tanpa disuruh. Bahkan kapsul2 suplemen saya dia hapal. Di sini letak ke-asistenannya Al.

Dia bisa disuruh membuat list belanjaan, mengingatkan apa yang saya lupa seperti minum obat, memasukkan pakaian olah raga kalau hari saya ke gym dan bajunya matching (pernah juga tabrak lari sih paduannya tapi jarang banget), mengingatkan membayar tukang sampah dll.

Selain itu, Al juga suka saya ajak makan di restoran, ngopi di Coffee Bean atau JCo kalau habis belanja mingguan, atau jalan2 ke mall atau sekedar beli DVD dekat rumah. Pagi2, yang pertama saya lihat selain anjing2 saya, ya si Al ini. Dia membuat kopi, menyediakan obat2 dan sarapan.

Sebelum tidur, Al juga yang terakhir saya lihat selain anjing2 saya. Kadang nonton TV dan DVD bareng, nonton bola bareng, pokoknya banyak hal2 dalam hidup saya yang saya lewati bersama Al. Bukan sekedar pembantu.

Al saya ajar untuk online. Walaupun dia belum bisa chatting dengan Yahoo, tetapi dia sudah punya account facebook. Teman2nya juga banyak, teman saya juga banyak jadi temannya dia malah. Al bisa diandalkan untuk otaknya.

Pernah saya membetulkan sepatu tetapi tidak bisa saya tunggu tetapi ingin melihat hasilnya seperti apa. Al foto sepatu saya dengan HPnya, lalu diposting di Facebook dan saya di-tag. Pinter kan?

Waktu Al putus dengan pacarnya (yang sebelum suaminya ini), dia ngadunya ke saya. Waktu saya putus dengan pacar2 saya, Al yang menyabarkan saya dan nemenin saya yang uring2an di tempat tidur. Waktu saya sakit dan diopname di rumah sakit, Al menengok setiap hari dan menunggui saya yang terbaring lemah.

Al yang mengingatkan saya untuk makan, memberi semangat, ikut senang dikala saya senang dan menemani, bahkan kadang memberi pandangannya yang sederhana bilamana saya sedang susah.

Waktu Al pacaran dengan suaminya yang sekarang, dia juga cerita sama saya dan calon suaminya dikenalkan kepada saya. Sampai akhirnya mereka menikah, suaminya tinggal bersama dengan saya juga. Suaminya tukang listrik, dan baik sekali orangnya. Tahu diri, sabar, membantu, dan sayang anjing juga.

Pendek kata, Al sudah lebih dari sekedar pembantu rumah tangga biasa. Bisa dibayangkan waktu Al mengumumkan bahwa dia berhenti KB dan ingin punya anak dan pulang ke kampung. Wah, stressnya. Bukan hanya stress mencari pengganti yang cekatan seperti dia, tetapi mencari orang dengan attitude riang gembira seperti dia yang sayang anjing.

Orang yang bisa dipercaya dan disayang seperti dia. Karena Al bukan hanya sekedar manusia yang membersih-bersihkan rumah, tetapi juga seorang teman yang setia yang sudah menjadi bagian hidup saya. Maklumlah, saya kan single, di rumah sehari2 juga yang ada yang nemenin ya si Al ini. Jadi menghadapi Al suatu waktu, tahun depan, kalau dia hamil dan kita berpisah itu berat sekali, seolah-olah saya akan menempuh hidup baru.

Banyak yang bilang, “Cari saja lagi”. Tetapi Al adalah Al yang tidak tergantikan. Keceriaannya dia, kerajinannya, kepolosannya akan dia bawa pulang kampung. Al adalah asisten, teman dan keluarga dan saya merasa sebentar lagi akan kehilangan dia. Tetapi bagaimana, dia juga ingin berkeluarga. Dia punya kehidupan sendiri, dimana saya tidak ada di dalam skenarionya.

Dia juga ingin maju dalam hidupnya seperti orang2 lain. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa semoga Al yang baik dan suaminya dikaruniai hidup yang lebih baik daripada sekarang, walaupun saya sangat sedih kehilangan Al. Saya yang sendirian ini, serasa akan ditinggal oleh seorang sahabat baik. Seorang sahabat baik yang sayang kepada saya dan sayang kepada anjing2 saya.

Berat rasanya. Mungkin berat karena saya takut merasa kesepian kalau Al pergi. Mungkin berat karena saya single dan Al adalah manusia yang paling banyak mengisi hidup saya dalam jangka waktu yang lama, baik secara fisik maupun emosional. Iya, betul, saya mempunyai ikatan batin dengan Al, seorang sederhana dari kampung Cilacap berumur 25 tahun.

Tapi tak apa. Hidup ini terus berjalan. Selalu berubah. Walaupun saya sedih dan akan merasa kehilangan, saya akan selalu berdoa semoga Al berbahagia dan maju dalam hidupnya.

2/14/2016

Who Knows About The Future?

Weekend kemarin saya beli DVD yang berjudul “You Will Meet A Tall Dark Stranger” yang disutradarai oleh Woody Allen. Di dalamnya, ada Anthony Hopkins, Antonio Banderas dan Naomi Watts. Ceritanya biasa, hanya kejadian2 yang bisa ditemui di kehidupan sehari-hari, mungkin juga kehidupan di dekat kita.

Who Knows About The Future?

Ada ibu2 setengah baya yang suka ke peramal untuk dilihat masa depan keluarganya. Ada keluarga yang jenuh dengan kehidupan sehari2nya. Ada suami yang tua, yang puber ke dua. Tetapi intinya, tiap2 tokoh dalam filem ini seolah2 merencanakan apa yang mereka inginkan, tetapi yang terjadi selalu sesuatu yang malah tidak terduga. Biasanya, ketemu seseorang yang merubah apa yang sudah direncanakan, atau ada saja yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, yang akhirnya membawa mereka ke suatu titik yang baru.

Yang saya suka, tokoh ibu2 setengah baya tersebut menyamakan reinkarnasi dengan awal dari sebuah kehidupan baru. Kehidupan baru bisa saja terjadi tanpa kita harus mati dulu. Misalnya, ketemu jodoh, itu kan memulai sesuatu yang baru. Beli rumah baru, cerai, dll. Dan dalam setiap kehidupan yang baru, ada teka teki kehidupan, ada misteri yang kita tidak tahu apa isinya untuk kita.

Filem yang pas untuk saya. Belakangan ini saya suka memikirkan, tepatnya agak khawatir dengan apa yang ada di masa depan saya. Mulai deh tebak2an; bagaimana kalau saya sakit karena tua nanti? Bagaimana kalau saya tetap sendirian sampai usia lanjut? Bagaimana kalau tabungan saya tidak cukup ketika saya pensiun nanti? Kekhawatiran yang biasa dipikirkan oleh orang2 secara umum. Orang2 yang selalu ingin berada dalam kontrol, alias control freak.

Tetapi setelah menonton filem ini, saya jadi mikir: kita bisa saja berencana, tetapi tetap Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Siapa yang tahu kita akan ketemu seseorang yang akan merubah hidup kita? Siapa yang tahu kalau satu kejadian akhirnya akan membuat kita menjadi lebih kuat? Siapa yang tahu kalau tiba2 seseorang yang kita sayangi menghilang dan meninggalkan kita nanti?

Jadi, untuk apa jauh2 memikirkan tentang masa depan? Mempersiapkan masa depan tentunya perlu, malah wajib hukumnya, supaya kita tidak menyusahkan orang lain. Tetapi mencoba mengintip masa depan itu sia-sia saja. Karena pada dasarnya kita tidak akan pernah siap menghadapi surprises dalam hidup kita.

Dan setelah saya pikir2, banyak di dalam hidup saya orang2 yang muncul tanpa saya duga. Orang2 yang menjadi teman dekat saya sekarang, padahal tadinya tidak saya pikir akan mempunyai hubungan dekat dengan saya. Bahkan, dalam hidup saya, siapa yang duga saya akan ketemu si Ruby, anjing cantik yang saya adopsi setelah salah satu anjing saya meninggal tahun lalu. Dan Ruby membuat hidup saya lebih berwarna dengan kemanjaan dan perhatiannya.

Kalau dirunut-runut, di mana saya berada sekarang bisa dikembalikan kepada siapa yang saya temui, apa yang saya alami dan apa yang saya baca. Dan ketiga hal ini adalah misteri yang dapat saja muncul dan terjadi tanpa kita tahu kapan. Jadi, memang benar kalau dikatakan manusia berusaha, Tuhan menentukan.

Kita cuma bisa memperbaiki kualitas diri kita supaya menjadi lebih baik, dan sisanya diserahkan ke atas saja. Buat apa mikirin hal2 yang tidak ada di bawah kontrol kita? Toh kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Siap2 boleh, tapi tidak perlu sampai khawatir.

Nikmati saja apa yang ada sekarang dengan menghitung berkah yang sudah kita terima sampai dengan hari ini.

2/13/2016

Semakin Tua, Cinta Dikalahkan Kenyataan?

Kemarin saya baru bergabung dengan geng saya waktu di SMP di blackberry groups. Semuanya cewek, jumlahnya ada 9 orang (sebenarnya 15, tapi yang bisa dikontak dan punya bb cuma 9). Dari ngobrol menanyakan khabar, ada 4 diantara kami yang janda, dua di perkawinan kedua. Ternyata hidup tidak selancar di filem2 ya…

Semakin Tua, Cinta Dikalahkan Kenyataan?

Biasalah, setelah menanyakan khabar, lokasi dan kesibukan masing2, kita ngobrolin teman2 yang lain, lalu mulailah ajang perjodohan. Kemarin yang jadi bahan poyok2an adalah saya. Mulai dari dijodohkan dengan teman SMP (yang diprotes sama teman2 yang lain) sampai tahu2 ada satu orang yang bilang, “Ini ada temen gue yang nyari istri, duda anak dua.

Posisi di kantor lumayan tinggi, mapan deh. Putih, tinggi. Islam.”. Nah lho. Ramailah yang lain menyahut supaya gayung ini bersambut. Sementara saya anteng2 saja. Yang menjodohkan rada serius, sambil mengatakan kalau saya mau, akan dihubungi. Lha saya kok malah takut.

Waktu dulu masih umur 20-an, rasanya dikenalin ngga ada takut2nya. Mulai pacaran juga ngga ada takut2nya. Ya mungkin waktu itu masih penuh angan2 dan harapan, apalagi namanya baru meniti kehidupan yang sebenarnya. Sekarang sudah 40-an, sudah punya kehidupan sendiri, akhirnya mulai mikir, hmh, apa iya saya butuh pendamping ya? Apa iya saya perlu hidup seatap dengan seseorang dan menyesuaikan diri lagi dengan orang lain?

Saya bandingkan dulu waktu masih lebih muda, kalau mau dikenalkan sama orang paling nanya, kerja di mana, tamatan mana. Sekarang pertanyaannya lebih belerot-lerot deh, perasaan. Mulai dari kerja di mana. Tinggal di mana. Kerjaannya apa. Anaknya berapa. Suka anjing apa ngga. Suka olahraga apa ngga. Orangtuanya masih ada apa ngga. Yang mana, pertanyaannya berkisar antara, apa dia bakal nyusahin gue apa ngga, atau, apa gue musti nyesuaiin diri terlalu banyak sama dia apa ngga.

Masalahnya begini. Misalnya kalau dulu saat romantisme menggebu-gebu, ga apalah pacar ngga punya mobil, kemana-mana naik motor. Nanti juga kalau kerja agak lamaan bisa nyicil mobil abis kawin. Gitu kan pikirannya. Kalau sekarang, mikir pacar pengangguran dan ga punya duit pastinya mikir, “Gile, hari gini ga ada duit, trus ntar mau numpang hidup ama gue? Sementara tanggungan gue juga bukannya ngga ada.”.

Atau, kalau dulu jarak jauh ayo dijabanin aja. Long distance relationship, makin bikin hot aja. Sekarang, haduh, hari gini, terus kalau gue mau ngobrol atau lagi butuh teman curhat, jauh amat…capek hati, biar kata ada skype juga, males deh. Iya, mungkin itu kata yang tepat, MALAS. Sudah lebih malas untuk menaruh effort untuk relationship yang butuh terlalu banyak usaha.

Atau, dalam kasus cowok yang mau dikenalin ke saya, pas saya tanya rumahnya di mana, wuiiiih, Jakarta coret, bo. Maksud gue, kalo tahu2 jadi, gue musti bangun jam berapa ke kantor? Sekarang kan enak, di tengah kota, itu aja udah macet2an. Apalagi nun jauh di sana, trus gue mau ke gym gemana?

Makanya, kalau saya dikenalin, lebih senang kenalan sebagai teman saja. Ngeri kenalan sama orang yang seperti ngejar target mau kawin lagi atau nyari istri lagi. Soalnya saya ngga buru2, saya ngga ngejar target. Saya ngga takut kalau ternyata sendirian seumur hidup, saya ngga khawatir ngga ada yang naksir karena saya sudah peot. Tapi saya khawatir kalau pihak sana berharap terlalu banyak, karena saya juga lumayan demanding. Ya iyalah, masa’ abis pacaran terus kwalitas hidup menurun?

Sebenernya bener ngga sih jalan pikiran saya? Maunya kan setelah punya pasangan, maunya hidupnya lebih tenang, lebih enak. Kwalitas hidup lebih baik. Kalau jadi lebih menurun, ngapain juga?

Misalnya nih, sekarang saya punya 3 anjing, rumah biar nyewa juga di tengah kota, relatif dekat ke kantor. Mobil lumayan oke. Trus tahu2 kawin, pindah ke pinggiran kota, ganti mobil yang lebih irit, trus anjing2 saya tidur di luar, ngga di kamar seperti sekarang. Lhaaaaaa……apa ngga mendingan hidup begini saja dan kita sebaiknya berteman saja?

Itu yang saya mau sebenarnya dari ajang2 perjodohan ini. Kenal, berteman, tanpa berharap masuk ke kehidupan saya. Makanya kalau ada yang bilang, “Ini ada yang lagi cari istri” saya suka bilang, “Saya lagi ngga cari suami. Tapi kalau temenan saja mau”. Trus orang yang mau ngenalin nyangkanya kita belagu. Apa iya belagu?

Intinya, semakin kita tua, toleransi semakin rendah karena sudah punya kehidupan yang lebih stabil dan malas merubah kehidupan dan kebiasaan itu. Dikit2 ya ngga apalah, tapi kalau sangat mayor, ya malas juga ya, saya sih malas. Maunya perubahan hidup ya tidak terlalu banyak berubah, paling tidak yang rutin2 dan kebiasaan2 yang bagus tidak ingin kita tinggalkan.

Kalau bisa, jangan ada yang berubah kecuali kita jadi punya companionship, teman curcol, teman ngobrol, jadi lebih enak. Alhasil, saya lebih suka berteman dulu, baru nanti lihat seperti apa, apa saya bisa menerima kehidupannya atau tidak. Makan waktu lama kan. Saya ngga buru2 juga. Available but not looking kan, mottonya. Bagaimana dengan Anda?

2/12/2016

5 Tahun Single, Is Not That Bad

Selagi facial di salon, tiba2 saya ingat tanggal. Wah, besok tanggal 8 Agustus ya. Saya jadi ingat, pada tanggal 8 Agustus saya resmi cerai dari suami, resmi jatuh talak 1 di Pengadilan Negri Jakarta Selatan.

5 Tahun Single, Is Not That Bad

Saya ingat betul bahwa saat itu saya datang dengan ojek, dengan baju kantor ke KUA. Saya masih ingat betul baju saya: atasan berwarna pink dan rok hitam. Rambut saya ikat satu. Saya tidak membawa mobil, tapi saya ke kantor dulu, kerja, baru ke KUA naik ojek sambil menguatkan hati. Saya datang sendirian ke sana.

Selagi menunggu beberapa saat, sang suami muncul. Lalu setelah menunggu giliran, masuk ke ruangan, jatuh talak, kemudian saya salam2an sama hakimnya. Entah waktu itu diberi selamat atau apa, saya lupa. Yang saya ingat lagi, saya diberikan tebengan ke kantor sama bekas suami saya. Sembari dia mengembalikan kartu kredit tambahan dan saya kembalikan ATM, saya di drop di gedung kantor di bilangan Gatot Subroto.

Lalu saya kembali bekerja lagi. Seolah tidak ada perasaan apa2…mungkin karena sudah hidup terpisah selama beberapa bulan ya, jadi sudah tidak ada perasaan lagi. Malah sorenya, sahabat saya muncul di apartemen waktu itu, lalu saya tunjukkan surat talaknya sambil becanda, “Sudah lulus, ada ijazahnya”.

Ini hanya sekedar cerita saya waktu ke Pengadilan Agama waktu cerai. Karena kami berdua sepakat perkawinan tidak bisa dilanjutkan lagi, maka kita berpisahnya baik2. Syukurlah, karena banyak yang berpisah dengan sulit, terutama kalau menyangkut harta gono gini. Kita tidak ada harta yang patut diperebutkan, sehingga lancar2 saja; mungkin tidak lebih dari 6 bulan setelah mengajukan permohonan cerai, kami disidang.

Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa saja. Kerja 5 hari seminggu, cari rumah kontrakan, membawa anjing saya 2 ekor ke rumah. Beberapa waktu kemudian, saya juga mulai membuka diri, ketemu dengan orang2, menjalin hubungan (yang akhirnya putus juga) atau ya cuma ketemu orang yang tidak cocok saja. Kembali seperti waktu masa kuliah dulu: ada yang tertarik, ada yang menarik, ada yang jadi kemudian putus. Patah hati, bangkit kembali, ya, begitulah seterusnya.

Selama 5 tahun ini, saya lihat2 ke belakang kembali. Apakah hidup saya lebih baik dari waktu saya masih menikah? Yang pasti, setelah pindah ke rumah kontrakan, saya merasa jauh lebih tenang karena berkumpul dengan dua anjing2 kesayangan saya kembali, setelah hampir 2 tahun berpisah.

Secara finansial, alhamdulillah saya tidak kekurangan, malah bisa dibilang saya bisa menabung lebih banyak. Teman2 saya masih tetap ada, kami saling memperhatikan dan saling care terutama yang sesama single. Kita suka ngopi bareng, nonton bareng, melakukan aktivitas bersama.

Keluarga juga tidak terlalu memusingkan status saya sekarang. Mereka sudah bisa menerima saya apa adanya. Sekarang saya punya keponakan 2 orang yang lucu2, yang masih bertanya kenapa saya tidak ada suami. Saya sendiri merasa saya sudah bisa menerima keadaan saya dan status saya yang baru ini begitu jatuh talak.

Ada perasaan lega karena status saya sudah jelas sekarang: janda. Single. Sehingga kalau saya berjalan dengan teman2 tanpa suami saya sudah enak, tidak ada kalimat2 sumbar yang sampai di telinga ibu bapak saya. Lagipula, single juga bukan berarti lalu kelayapan seperti kuda liar.

Lima tahun kebelakang ini, saya malah lebih betah di rumah. Kalau waktu masih menikah dulu sering ke luar rumah ketemu teman2 karena tidak betah, sekarang malah di rumah sampai pembantu saja bilang saya kurang gaul. Mungkin juga karena usia yang semakin bertambah, rasanya saya sudah tidak perlu mencari eksistensi dan pengakuan dari orang2 lain bahwa saya masih menarik atau sejenisnya.

Ngga tebar pesona deh, santai bener. Saya punya teman yang setelah cerai malah kehidupan malamnya semakin menjadi. Kalau saya, malah sering tidur cepat. Paling2 ke gym kalau pulang malam. Atau makan malam sama teman yang berakhir pada pukul 9:00 malam, tidak lebih. Waaaah….berasa tua.

Memang selama lima tahun ini bukannya semua gampang. Karena semua saya tanggung sendiri. Kadang2 rasanya ingin ada teman berbagi kalau lagi gundah, tetapi ya masih ada teman, masih bisa ngobrol, walaupun tidak setiap saat bisa. Kalau sakit, sendiri. Paling teman2 juga yang memperhatikan. Tapi tidak apa, saya pikir2, it’s not that bad.

Harus lebih pandai2 menjaga diri supaya tidak terlalu menyulitkan orang lain saja. Kadang sih suka merasa, “Aduh, coba ada yang bisa diajak ngobrol atau diskusi”. Tapi terus ingat, “Lebih parah lagi dulu, ada orang yang mustinya bisa diajak diskusi tapi tidak bisa…”. Mending sendiri jumpalitan daripada double tapi masih jumpalitan juga.

Tapi memang sih, enak rasanya kalau ketemu pasangan yang cocok dan melalui hari2 bersama. Melalui ke-bete-an hari Senin bareng, ada temen curhat, ada teman ketawa, ada teman sandaran. Mungkin satu saat nanti masih ada disediakan Tuhan jodoh yang tepat untuk saya. Tapi untuk sementara ini, rasanya 5 tahun terakhir ini kehidupan saya cukup baik. Ternyata hidup single itu tidak semenakutkan sewaktu saya dulu bimbang memutuskan cerai atau tidak.

Jalani saja. Let it be, there will be an answer, let it be.

2/11/2016

Sebenarnya Tak Ingin Single

Lagi iseng lihat timeline tweet mengenai show Single Ladies. Terus ada yang memberi komentar2 miring, seperti cewek2 single sebenernya di dalam hatinya tidak kepengen single. Waduh.

Sebenarnya Tak Ingin Single

Semestinya menjadi single atau double itu harus menjadi pilihan ya. Maksudnya, kita kan orang2 dewasa (kecuali hidup di zamannya Siti Nurbaya yang musti dikawinin sama Datuk Maringgih). Mau kawin atau tidak, idealnya tidak ada pemaksaan. Jadi harusnya mau status kita itu apapun juga, musti dinikmati sehingga tidak merasa terpaksa menjalaninya.

Kadang saya juga ditanya, apa tidak mau punya pasangan lagi?

Well…ya mau saja kalau pasangannya memang membawa kebahagiaan dan bisa saling melengkapi kebutuhan. Tapi kalau tidak ada juga kehidupan saya sekarang ini tidaklah terlalu buruk. Banyak waktu untuk diri sendiri misalnya untuk baca buku, main sama anjing2 sampai puas, dan bisa mengatur waktu sendiri tanpa pertimbangan terlalu banyak. Not a bad life at all.

Kuncinya dinikmati saja. Kalau memang kepengen punya pasangan, ya harus ada usaha mungkin ya. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kalau kita usaha dan diniatkan, seluruh muka bumi akan mendukung dan mengkondisikan situasi sehingga doa kita terkabul.

Mungkin kalau saya bener2 niat ingin punya pasangan, sekarang saya sudah punya pasangan ya (apalagi banyak bener nomor telepon bertebaran di blog ini…).  Dinikmati saja….

2/10/2016

Jenis Undangan Berdasarkan Usia

Saya sedang sendirian ketika terima sms dari temen yang mengajak untuk reunian. Kali ini reuni untuk memperingati teman2 seangkatan yang sudah meninggal. Karena kelompoknya tidak besar dan diadakannya di rumah teman yang dekat dengan rumah saya, saya datang

Jenis Undangan Berdasarkan Usia

Sesampai di sana, kita bicara mengenai berita2 yang kita terima dan biasanya seputar teman yang sakit, teman yang baru sembuh, dan sekarang beberapa teman yang meninggal karena stroke, jantung, maupun kanker.

Jadi mikir, beda ya, undangan2 yang kita terima di tiap-tiap dekade dalam kehidupan. Coba pikir:

Pesta ulang tahun anak2, pasti ada tiup lilinnya. Ketika kita masih anak2 dan remaja, kita biasanya menerima undangan ulang tahun dari teman. Pembicaraan juga ngga jauh2 dari pelajaran, permainan, ulangan dan yang sejenisnya.

Sewaktu kecil, undangan pesta kalau tidak ke rumah dengan mengundang badut, ya di McDonald atau tempat2 fastfood lainnya dengan badut juga. Sementara di usia belasan, biasanya cuma dikasih duit sama orang tua terus terserah mau traktir teman2 ke mana.

Ketika kita mulai memasuki akhir usia belasan tahun, kita mulai sibuk dengan undangan dari universitas-universitas. Mungkin tidak literally mereka mengundang, apalagi yang sudah mapan dan ngetop, tetapi iklan di koran kan tetap saja bisa dihitung sebagai undangan massal, bukan?

Ketika kita memasuki usia 20-an, kita sibuk dengan kuliah. Tetapi kita juga mulai lulus kuliah, dan biasanya teman2 yang perempuan beberapa saat kemudian menyebarkan undangan kawin. Rasanya waktu saya di usia 20-an, hampir tiap weekend ada acara resepsi perkawinan. Soal kesehatan, jarang diomongin. Biasanya kuat pesta dari malam hingga pagi terus paginya langsung masuk kantor.

Ketika awal memasuki usia 30-an, kita masih banyak menerima undangan kawin, tetapi kali ini kebanyakan teman kita yang pria yang mulai mengikat janji setia dengan pasangannya yang berumur 20-an.

Di usia ini juga kita sering menerima undangan sunatan, atau mendengar kabar teman2 kita mulai mempunyai momongan. Atau mungkin saudara kita mulai menikah dan mempunyai momongan, sehingga kita mulai dipanggil tante atau om.

Memasuki usia 40-an, mulai badan terasa tidak terlalu fit seperti dulu. Kalau dulu kuat begadang, sekarang untuk recover dari pesta semalam rasanya butuh waktu 2 hari. Mulai deh, kita membandingan suplemen apa yang teman2 kita konsumsi.

Jenis “undangan” juga mulai berbeda. Biasanya undangan reuni, tetapi kegiatan juga mulai nambah dengan menjenguk teman yang sakit karena penyakit jantung, stroke maupun penyakit2 yang dulu rasanya jauh tetapi sekarang teman2 kita mulai mengidapnya. Sakit punggung soal yang biasa.

Di usia ini juga kita mulai dengar teman2 yang perkawinannya tidak mulus dan sampai cerai. Di usia 40-an ini, orang tua dari teman2 kita juga sudah pada mulai menghadap-Nya. Rasanya umur 40-an ini adalah titik tolak dimana kita mulai memikirkan hal2 yang lain selain hal2 yang duniawi. Titik spiritualitas manusialah.

Masuk umur 50, kita mulai menerima undangan ulang tahun setengah abad. Kemudian disusul dengan undangan kawin anak2 dari teman2 kita yang berumur 20-an. Mulai depresi juga ya, mendengan teman2 kita anak2nya sudah tamat kuliah, cari kerja, kawin, rasanya mulai terasa kalau memang umur sudah tidak muda lagi. Teman2 juga sudah mulai berguguran dan sebagian mulai keluar penyakit2nya, upah dari kebiasaan2 ketika masih muda dulu.

Masuk umur 60-an, saya musti ingat2 kehidupan orang tua saya ketika mereka di umur segini. Rasanya hampir tiap hari ada undangan kawin anak dari kenalan mereka. Selain itu, mereka mulai terdengar pergi melayat. Kadang kenalan dekat mereka, kadang tante atau om kita yang meninggal dunia.

Rasanya juga penyakit yang dulu rasanya jauh bener mulai mengintai diri masing-masing. Kalau di umur 40-an menelan suplemen, di umur 60 mulai membiasakan diri dengan memakan obat2an yang kalau tidak diminum fatal akibatnya. Kalau reunian dulu di tempat kawinan, sekarang kalau tidak di rumah sakit lagi antre obat, medical check up, atau ya, kawinan anak2 teman.


Masuk umur 70-an, rasanya jatah undangan kawin berkurang tetapi lebih sering melayat atau mengunjungi teman atau keluarga di rumah sakit. Kalaupun menerima undangan kawin, paling datang pas akad nikahnya saja, sedangkan resepsinya lewat, karena sudah tidak kuat begadang, atau menu makanan sudah khusus, atau tidak kuat duduk lama. Tante2 saya dan orang tua saya sudah dalam tahap umur segini. Bukan penyakit lagi yang mengintai tetapi maut.

Kalau saya pikir2, sekarang2 ini saya mulai banyak bicara dengan kawan mengenai teman2 yang sedang sakit, baru sakit. Kebanyakan sakit jantung dan stroke, atau masalah dengan cholesterol, tekanan darah, dan yang paling ringan, ketarik otot punggung (ini saya juga sering banget). Undangan kawin kawan sudah langka banget, berita teman cerai mulai terdengar, orang tua teman yang meninggal juga sering terdengan.

Kawan yang meninggal pun sudah ada satu dua. Senior2 saya sudah pada mulai ngawinin anaknya. Anak2 teman saya yang perempuan sudah SMA, bahkan sudah ada yang kuliah, membuat saya merasa semakin tua karena rasanya baru tahun lalu selesai sorak2an pakai jaket kuning Himpunan Mahasiswa Geologi ITB di Aula Barat.

Di kantor juga selisih umur dengan staf yang termuda sudah bilangan kepala dua. Rasanya sudah berumur banget dan juga rasanya kita sudah sampai titik tertentu di mana kita bisa bilang, “Saya sudah sampai di sini dan saya bangga”.

Tidak semua yang saya lalui itu menyenangkan. Ada beberapa tahap dimana saya bingung dengan langkah karir. Malah di umur 30-an saya sudah menyandang titel janda, yang merupakan titik melakukan “Plan B” setelah Plan A gagal total.

Tetapi saya hanya melihat ke belakang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mungkin di masa depan saya akan melakukan kesalahan yang lain, yang akan menjadi masa lalu di usia saya yang nanti lanjut. Namun saya berusaha tidak takut mengambil resiko karena hidup ini hanya sekali.

Paling tidak saya bisa mengatakan saya sudah melaluinya dan tiap2 umur yang saya lalui membuat siapa saya sekarang ini. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya tidak menyesali sedikitpun apapun yang saya lalui, paling tidak bukan suatu penyesalan yang berarti. Thanks to my parents yang senantiasa selalu membimbing saya sampai usia saya sekarang ini.

Nikmati hidup, lakukan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, jangan pernah menyesal.

2/09/2016

Kalau ke Pesta Sendirian

Undangan kawinan (sekarang yang kawin anaknya senior, bukan temen lagi…berasa makin tua ngga sih?). Pernah nggak rekan2 yang single merasa mau pergi pesta dengan siapa? Atau pernah nggak tidak datang ke kawinan karena ngga ada teman?

Kalau ke Pesta Sendirian

Banyak temen2 saya yang single kelimpungan cari temen buat datang ke pesta kawinan. Banyak yang malas datang sendirian. Bukan hanya perempuan saja, laki2 juga ternyata begitu. Tidak segan2 minta tolong nemenin kalau ada acara kawinan, sementara status masih jomblo.

Sebenernya kenapa ya, rikuh pergi sendirian ke pesta? Toh pestanya orang yang kita kenal. Nanti di keramaian juga kita berbaur dengan tamu lain atau ketemu dengan teman2 atau rekan2 kantor lainnya yang diundang. Atau, kalau pesta keluarga, toh kita sebagian besar kenal dengan mereka dan mereka tahu statusnya kita itu single.

Beberapa teman yang saya tanya bilang, “Ah, males aja masuk ke ruang undangan sendiri”, “Nanti di sana bengong2 ngga tahu ngobrol sama siapa”. Atau malah ada beberapa yang merasa malu datang sendirian. Lho.

Saya kebetulan, mungkin, either kulitnya tebal atau sangat praktis dalam memandang hidup ini, belum pernah merasa males ke pesta sendirian. Beberapa kali saya datang sendirian, turun dari taksi dan masuk ke ruang kondangan sendirian untuk kemudian berbaur bersama tamu2 yang lain.

Karena saya merasa saya datang untuk menghormati dan turut berbahagia atas hajat si empunya acara, jadi ya saya tidak pernah merasa salah tingkah kalau datang ke pesta sendirian. Memang ada beberapa trick untuk datang ke pesta sendirian, yang nanti saya akan kasih tahu tapi sabar2 dulu ya.

Kalau pesta kawinan ala barat, biasanya yang single2 didudukkan di meja bersama dengan para singleton yang lain. Tujuannya supaya sesama single berbaur dan mungkin klik dan bisa berlanjut. Intinya, supaya tidak canggunglah.

Pesta seperti ini saya suka, karena saya jadi punya kenalan baru dan kadang kalau si empunya hajat pintar, yang punya hobby mirip didudukkan saling berdekatan sehingga ada materi pembicaraan.

Kalau pesta resepsi ala Indonesia, sebenernya lebih enak lagi. Karena begitu banyaknya undangan, orang2 tidak terlalu memperhatikan kita celingak celinguk. Kita bisa datang, cari teman yang mau antri salaman, atau makan dulu sambil nyari temen yang belum salaman, lalu salaman bareng2 biar antrinya tidak lama dan perut sudah tenang sambil ngobrol2.

Cocktail party juga biasanya gampang. Biasanya event2 seperti pembukaan sesuatu, peluncuran buku, atau event kantoran atau profesi, banyak yang datang sendirian juga, sehingga tergantung kita saja apakah kita mau jadi manusia ramah atau manusia antisosial.

Lagipula, acara seperti ini terbuka, dalam artian, kita bebas pulang kalau kita merasa bosan karena hanya mingle2 saja. Beberapa acara ulang tahun juga demikian, tetapi kita biasanya harus nunggu tiup lilin baru bisa minta izin pulang kalau tidak betah.

Yang sulit kalau diundang gala dinner. Biasanya pesta seperti ini untuk penggalangan dana. Acaranya duduk di satu meja bundar bersama mungkin 10 orang dalam meja, lalu ada acaranya. Biasanya acara terakhirnya lumayan bebas alias berajojing dan kita bisa pulang. Tapi selagi cara makannya, kalau kebagian teman semeja yang ngga asik bisa bete’ sendirian.

Kalau pesta begini, memang paling enak bawa teman karena bisa celingak celinguk ga tau mau ngobrol apa, apalagi kalau di meja kita semua bawa pasangan atau teman, paling ngga tidak diem saja di meja. Tapi sekali lagi, kalau yang punya hajat tahu kita single, kita akan disatukan dengan yang datang sendirian juga. Biasanya pesta model begini RSVP, sehingga yang mengatur meja sudah tahu mengatur tamu duduk di mana.


Yang paling sering kita datangi tentunya pesta kawinan. Rikuh? Ini tips saya:
  • Nomor satu adalah percaya diri. Caranya, kita tampil prima. Pakai baju yang bikin kita merasa paling cantik. Pakai make up tanpa cela. Kalau perlu pakai tukang dandan di salon. Tata rambut sehingga kita kelihatan lain, alias membuat pangling. Pokoknya, segala cara supaya kita merasa PD. Lalu masuk ke pesta kawinan seolah-olah Anda menjadi perhatian semua orang. Karena sendiri, perhatian tentunya untuk kita, bukan pasangan kan?
  • Kalau ke pesta kawinan, jangan datang sebelum pengantin tiba atau datang terlalu tepat waktu. Datang terlambat. Misalnya pestanya malam, datangnya jangan jam 7 tetapi jam 8 ketika orang masih ramai tetapi antrian salaman sudah pendek dan orang2 sudah mulai sibuk makan. Jadi tidak sempat bengong sendirian. Yang pasti, datang pas acara makan sudah dimulai.
  • Begitu datang, langsung ke tempat makan adalah ide yang baik. Sembari kita antri makan dan sibuk, biasanya ada teman yang lihat dan nyamperin, lalu kita tahu dimana teman2 kita yang lain pada bergerombol.
Yang penting, sibukkan diri kita dengan makan, atau pura2 makan, karena kita jadi tidak salah tingkah. Sementara makan, lirik2 kalau ada yang kita kenal. Kalau tidak, konsentrasi penuh pada makanan, salaman, lalu langsung pulang.

Kalau pestanya duduk?
  • Dengan anggapan duduk dengan orang2 yang cocok, perkenalkan diri sendiri kepada orang2 semeja makan.
  • Paling tidak tahu dengan nama orang di sebelah kita. Pertanyaan standar: kerja di mana, kenal yang punya acara dari mana, dll. Siapkan list pertanyaan dari rumah kalau perlu, pertanyaan2 ‘ice breaker’.
  • Kalau yang duduk di sebelah kita kelihatan tidak tertarik ngomong dengan kita tetapi lebih tertarik ngobrol dengan pasangannya, ya biarin saja. Untuk itulah kita punya yang namanya smartphone, bisa update status di Twitter atau Facebook. Alias kita apes. Kalau sudah begini, tunggu sebentar, numpang ke belakang, lalu cari alasan untuk bisa meninggalkan pesta dengan segera. Paling tidak, jangan mau rugi, habiskan dulu makanan, baru kebelakang.

Enaknya kalau ke pesta sendirian adalah, kita tidak perlu menunggu teman atau pasangan kita untuk pulang. Kita bisa pulang seenak diri kita sendiri kalau sudah merasa capek atau bosan. Dan yang penting, PeDe!

2/08/2016

Pergi Berlibur ke Raja Ampat


Akhirnya, bulan yang ditunggu2 untuk cuti 7 hari penuh datang juga. Dari tahun lalu, saya dan teman2 saya yang doyan menyelam ini membuat dan menabung untuk bisa meluncur ke Wayag, suatu pulau yang ada di wilayah Kepulauan Raja Ampat, Papua.

Pergi Berlibur ke Raja Ampat

Memang libur sebelumnya belum terlalu lama, waktu saya pergi ke Siem Reap, Kamboja (sekedar menghabiskan waktu Valentine bersama teman2 sesama single, ketimbang jomblo di rumah?). Tetapi liburan kali ini bener2 liburan: jauh dari kota (di tengah laut) tanpa sinyal.

Hanya satu yang memberatkan saya untuk pergi jauh dan lama2: anjing2 saya. Namun sudah ada Al, sang asisten, yang akan menjaga guguk2 saya. Maka berangkatlah saya berlibur bersama teman2 saya, dan bertemu dengan 5 orang teman baru yang bekerja di Freeport.

Berkumpullah 12 orang penyelam yang siap mengeksplorasi perairan timur Indonesia. Dari keduabelas orang di dalam tim kami, empat adalah perempuan, dan semua single. Yang laki2 semua sudah menikah, kecuali satu (yang berumur hampir separuh dari umur saya).

Namun di tengah lautan yang tidak bersinyal, kami semua menikmati keberadaan masing2 diri kami sendiri, dan tentunya, menikmati alam nan indah luar biasa. Mulai dari laut yang biru, pantai yang bersih tak terpolusi, keindahan bawah laut sampai pemandangan kepulauan Raja Ampat dari bukit yang curam, yang ditanjaki selama kurang lebih 30 menit.

Untuk sejenak, kami lupa apa yang kami tinggalkan di Jakarta atau Timika. Pekerjaan, pasangan, masalah2, semua seolah hilang oleh indahnya suasana. Kehidupan selama 5 hari di laut, di atas kapal, berinteraksi dengan sesama penghuni kapal, bercanda, saling menunjukkan keindahan alam, sampai saling sharing pengalaman2 kita masing2 (peserta paling tua 56 tahun, yang paling muda 23 tahun).

Dalam liburan yang sejenak ini, bukan hanya rileks dan keindahan alam saja yang dinikmati, tetapi juga pembicaraan2 dan diskusi2 mengenai tempat hiburan di Jakarta, perempuan, kadang relationship, sehingga terjalin ikatan yang kuat diantara kami semua.

Rutinitas. Liburan adalah upaya untuk keluar dari rutinitas. Di kapal, sambil duduk mengopi, saya memandang jauh ke depan memikirkan kehidupan yang saya tinggalkan di Jakarta. Macet, kerja, olah raga, keluh kesah. Lupa semua masalah untuk sejenak di kapal ini.

Kebetulan juga, hobby saya yang satu ini selalu membuka kesempatan saya untuk ketemu dengan orang2 baru yang mempunyai interest yang sama: menyelam. Beragam profesi manusia saya temui setiap saya mengikuti trip2 menyelam dengan segala kemenarikan dan variasi hidupnya.

Beragam sifat manusia saya temui yang membuat diri kita kaya. Ini yang saya sukai dari liburan yang tidak hanya sekedar jalan2, foto2 mengumpulkan barang bukti sudah sampai di suatu tempat, atau belanja gila2an. Liburan yang sukses bagi saya adalah liburan dimana berinteraksi dengan orang2 yang memperkaya diri kita mengenai hal2 yang baru.

Jadi, intinya, cobalah pergi berlibur selama masih bisa mengambil cuti dari kantor. Lakukanlah perjalanan untuk melupakan sejenak rutinitas hidup. Bersantai, kumpul bersama teman2, bertemu kenalan2 baru. Kali2 ketemu orang yang pernah mengalami hal2 yang sama seperti kita sehingga bisa bertukar pikiran.

Syukur2 ketemu teman yang nantinya menjadi teman dekat, bahkan pasangan hidup. Hidup akan terasa lebih ringan dengan ketemu orang2 baru; kadang cara kita memandang hidup menjadi berubah walaupun sedikit setelah liburan.

Memang untuk orang yang single seperti saya, waktu untuk liburan menjadi lebih mudah dibandingkan dengan mereka yang mempunyai keluarga, karena saya tidak perlu menyesuaikan diri dengan jadwal liburan sekolah ataupun cuti pasangan. Ibaratnya, paling cuti pembantu saja yang musti disesuaikan kalau mau berangkat cuti.

Tetapi cobalah ambil cuti beberapa hari saja ke tempat dengan suasana yang baru dan lingkungan baru. Lakukan hal2 yang baru dengan kenalan2 yang baru. Sebagai seorang single yang sehari2 sendiri, liburan seperti ini sangat membantu membuat pikiran kita positif.

Sebenarnya, weekend sekalipun dapat menjadi liburan yang bermakna. Coba deh, sekali2 melakukan sesuatu yang lain di satu weekend. Walau hanya dua malam, bisa menyegarkan pikiran.


Satu hal yang sering dilakukan oleh rekan2 yang single adalah tidak pergi cuti atau menghibur diri karena status single-nya. Karena takut sendirian. Wah. Jangan sampai status single menjadi penghalang untuk menghalangi dan menikmati rahmat dan karunia dari Tuhan. Justru karena masih single maka gunakan kesempatan untuk cuti sebaik2nya.

Cari teman yang single juga untuk menghabiskan masa liburan dengan berkesan. Tentunya teman yang mempunyai kesukaan yang sama dan dapat ditolerir kebiasaan2nya, apalagi kalau share kamar. Jangan takut sendirian. Beberapa kali saya pergi berlibur dan mendaftarkan diri dalam trip tanpa tahu siapa saja yang ikut dalam trip.

Tim Wayag. Bertemu teman2 baru.
Liburan itu penting, bagi semua orang, liburan itu penting karena menghentikan sejenak rutinitas kita sehari2. Rutinitas yang kadang membawa kita kepada kejenuhan dan rasa frustrasi. Kehidupan yang monoton menjadi lebih berwarna jika dalam beberapa saat kita melakukan sesuatu yang berbeda, dalam suasana yang berbeda.

Bisa mencairkan kekakuan diri maupun sesama. Bagi saya yang single ini, kadang suka merasa ingin melepaskan lelah dan kesendirian dalam kehidupan sehari2. Bertemu dengan orang2 baru, melakukan kegiatan yang disukai, beraktivitas yang lain dari hari2 biasa membuat jiwa lebih segar dan siap untuk menghadapi rutinitas berikutnya. Dengan berlibur juga sejenak melupakan atau menunda menyelesaikan masalah dengan menjernihkan otak yang sudah jenuh.

Ketemu kenalan2 baru memperkaya kehidupan kita. Suasana yang indah dan pemandangan yang bagus membuat kita bersyukur bahwa kita masih bisa menikmati karunia-Nya yang tidak ada habisnya. Paling tidak, liburan kali ini buat saya benar2 menyeimbangkan mental yang sudah lelah dengan kehidupan kota besar yang ramai namun sepi. Delapan hari bersama teman2 sehobby merupakan kesegaran rohani tersendiri.

Jadi, kapan jadwal liburan berikutnya?

2/07/2016

Antara Cerai dan Cinta

Pagi2 baca status2 facebook sambil nyeruput kopi, tiba2 ada yang statusnya berubah dari seorang teman lama: “Fulan is now single”. Lha?!

Antara Cerai dan Cinta

Walau sudah beberapa kali mengikuti teman yang dihadiri pernikahannya terus mengikuti proses cerainya, tetap saja mendengar khabar cerai masih suka rada kaget. Ngga kaget2 banget karena saya sendiri cerai sehingga saya tahu cerai itu sesuatu yang mungkin terjadi di sekitar saya, mungkin juga karena teman2 saya banyak yang statusnya sudah single kembali, tetapi ‘rada’ kaget karena sedikit banyak saya agak menyayangkan kok bisa dia juga cerai ya…

Kalau saya pikir2 kenapa teman2 saya ini cerai, alasannya banyak. Ada yang alasannya orang ke-tiga. Ini mungkin yang paling banyak. Kemudian disusul dengan sudah tidak cocok, inconsolable differences kalau bahasa Hollywoodnya. Ada yang bilang, “Sudah ngga cinta lagi”, yang kemudian biasanya dibalas dengan, “Ya, kalau sudah kawin lama kan cinta juga hilang”.

Duuuh, sedih banget. Nah kalau sudah tidak cinta lagi kok ya masih kawin? Saya mungkin orang yang amat sangat romantis sehingga beranggapan kalau yang namanya hidup bersama itu harus dengan cinta. Mungkin karena perkawinan saya sendiri dulu kandas karena tidak didasarkan oleh cinta, sehingga saya merasa cinta adalah fondasi dari kesepakatan untuk hidup bersama. Apa enaknya hidup bersama, tidur bersama dengan orang yang kita tidak cintai?

Saya bahas kasus teman saya yang baru2 ini curhat ke saya, yang saya geleng2 kepala luar biasa mendengar ceritanya. Teman saya, sebutlah namanya Ali, sudah menikah 6 tahun dengan istrinya. Perkawinannya tidak harmonis sama sekali, karena istrinya punya pacar.

Bahkan, kadang istrinya malah nginep di rumah pacarnya, pergi liburan dengan pacarnya, dan anehnya, cerita pula sama si Ali ini kalau dia baru pergi sama pacarnya. Kadang dia cerita bahwa dia tidak habis pikir kok ya istrinya bisa begitu. Saya tanya, apa sudah diomongin, dia bilang, “Mungkin itu hanya satu fase, mungkin nanti dia akan kembali ke saya. Gemana ya, saya masih cinta sih, saya masih mengharapkan dia kembali biar bagaimanapun”.

Ada lagi teman saya, sebutlah namanya Dandi, yang istrinya mempunyai pacar juga. Dandi sangat patah hati ketika istrinya mengatakan bahwa dia sudah lama tidak mencintainya. Tetapi Dandi malah bisa lho, ketemu sama pacar suaminya dan bilang, “Kamu jangan nyakitin istri saya ya”, bukannya ditonjok mati2an.

Mereka masih menikah, masih bareng karena ada anak (memang anak selalu menjadi alasan kenapa dua orang manusia masih bersama, ya), tetapi kalau cuti sekarang mereka sendiri2, walau tinggal seatap tetapi tidak melakukan hal2 bersama sebagaimana pasangan. Waktu saya tanya apakah mereka akan tetap bersama, Dandi hanya bilang tidak tahu. Beberapa bulan berlalu, status mereka berdua masih hidup bersama tetapi tidak bersama. Bener2 statusnya it’s complicated kalau di facebook.

Saya suka merasa kasihan sama dua orang manusia yang tidak bisa hidup bersama walaupun saling mencintai. Baru2 ini orang kantor saya ada yang kawin lari, tidak peduli dengan ketidak setujuan orangtua mereka yang menentang mereka untuk menikah bersama karena beda agama. Wah, saya salut. Wah, romantis banget. Bukankah cinta diajarkan oleh tiap agama? Kenapa juga agama harus memisahkan dua orang yang saling mencintai? Mungkin ini pertanyaan yang konyol dan naif, tapi ya, kalau cinta, apa salahnya?

Saya kadang lebih kasihan lagi dengan dua orang manusia yang harus bertahan menikah walaupun tidak cinta karena salah satu mempunyai posisi lemah. Biasanya, yang lemah tidak mempunyai kedudukan finansial yang cukup untuk hidup sendiri. Atau, salah satunya terlena dengan status sosial yang sudah bagus, atau malu kalau menjadi single kembali. Apalagi kalau dalam perkawinannya dihiasi dengan kekerasan rumah tangga.

Aduuuuh….seolah-olah dia tidak pantas untuk diperlakukan dengan lebih baik, seolah dia tidak berhak untuk memperoleh ungkapan cinta yang lebih wajar. Setidaknya, mereka bertahan menikah dan berharap bahwa cinta yang pernah ada (kalau pernah) akan tumbuh kembali (atau tumbuh walaupun cinta tidak pernah ada).

Yang cintanya sudah hilang masih berharap untuk tumbuh kembali rupanya. Tapi sedih sekali, kalau harus hidup bersama dengan orang yang tidak kita cintai.

Kalau saya, satu2nya alasan kalau saya akan bersama seorang laki2 adalah, karena saya cinta sama dia. Karena, secara materi, saya sudah cukup. Lagian saya juga sudah pernah kawin, jadi tidak perlu status istri. Status janda juga tidak terlalu mengganggu, wong teman2 saya juga banyak aja yang janda atau duda.

Anak juga tidak menjadi motivasi untuk kawin, wong umur juga sudah 43. Jadi satu2nya alasan saya kalau mau hidup dengan orang lain adalah karena saya cinta sama dia. Karena kalau sama dia, hidup saya akan lebih berwarna dan lebih membawa kebaikan dan berkah.

Dan kalau bisa, cintanya jangan cepat hilang. Jangan hilang, tetapi tetap ada, dan kalau bisa tumbuh terus. Mudah2an ngga muluk.

2/06/2016

Pendamping, Apa Mutlak Perlu?

Saya teringat sama ibu kos saya waktu kuliah di Bandung. Namanya Ibu Yanti. Dia sudah menjadi janda sejak umurnya 35 tahun, punya anak 3 (sekarang umurnya sudah 70). Selain bisnis kos2an, dia juga seorang ulama yang dekat sama anak2 muda

Pendamping, Apa Mutlak Perlu?

Tempat kos saya selalu penuh dengan anak2 muda yang datang untuk penyegaran rohani. Kadang mereka mampir untuk sekedar say hi, ikutan makan malem, ngobrol2 refreshing sama si Ibu.

Saya inget bener Ibu ini cool banget. Dia sangat menikmati hidupnya. Selain sibuk dengan kegiatan kotbah, dia juga enjoy bener ketawa ketiwi sama anak2 kos. Yang saya paking senang adalah kalau curhat soal keluarga saya atau pacar2 saya. Dia bener2 bisa kasih pandangan yang segar dan up to date dan masuk ke kepala saya yang lumayan kepala batu ini.

Selama 4 tahun kos di tempat itu, saya inget banget kalau si Ibu sering dijodohin sama orang2. Maklumlah, ibu ini cantiknya selangit. Teman2 kos saya saja suka bengong kalau dia yang bukain pintu. Kadang2 kita2 yang kos suka disuruh ketemu sama bapa2 yang biasanya duda, yang dijodohin sama dia.

Tapi dia tuh kelihatannya so full of her life, sangat enjoy dengan hidupnya yang sederhana dan dikelilingi orang2 yang mencintai dirinya. Sepertinya dia sudah merasa cukup bahagia dengan kehidupannya dia dan selalu menolak dengan halus bapa2 yang dijodohkan dengan dia. Padahal yang dijodohin sama beliau direktur2 lho.

Kadang saya mikir, apa cintanya sama mendiang suaminya segitu besarnya sehingga dia sudah tidak perlu lagi merasakan cinta kembali? Atau konsentrasinya bulat untuk membesarkan 3 orang anak2nya (yang sudah sukses sekarang)?

Yang saya tahu, dia tidak pernah merasa kesepian, selalu membagi kasih terhadap sesama secara tulus, dan selalu bersyukur kepada Tuhan. Dia tidak minta macam2, tetapi selalu senang dengan apa yang dia miliki. She is full of life and enjoying life to the fullest.

Saya mempunyai beberapa tante yang juga menyendiri setelah ditinggal suami mereka. Entah cerai, entah meninggal. Ada yang punya anak, ada yang tidak. Lalu, saya membaca beberapa comment dari pembaca blog ini, bahwa saya pasti membutuhkan pendamping dan tidak mungkin hidup sendiri.

Ah. Masa’ sih? Banyak sekali janda2 yang hidup sendiri dan bertahan sendiri, yang hidupnya bahagia. Mereka seolah menerima dan menjadi manusia seutuhnya dalam kesendiriannya. Pada dasarnya, kita tidak sendiri. Kita memiliki teman2, kerabat dan keluarga.

Sebenarnya dengan membagi kasih terhadap sesama, kita tidak akan pernah merasa kesepian. Selama kita memiliki hobi dan hidup sepenuhnya menikmati karunia yang ada, bukan menyesali apa yang tidak ada, hidup sendiri tidaklah menakutkan, apalagi menyedihkan.

Sedangkan ada istri2 yang merasa tetap kesepian walaupun punya suami. Artinya everything is on our mind, bukan?

Membaca comment2 orang yang yakin bahwa saya pasti akan membutuhkan seseorang pendamping, terus terang sampai detik ini belum ada yang saya anggap pantas untuk mendampingi dan share kehidupan saya yang super dinamis ini. Sama seperti Ibu Kos saya itu, terlalu banyak yang indah dalam hidup ini sehingga tidak ada waktu menyesali apa yang saya tidak miliki.

Bukan saya menutup diri. Mungkin memang ada beberapa orang yang ditakdirkan untuk hidup sendiri. Tiap2 orang ada jalan hidupnya dan tiap2 orang bisa bahagia dalam menjalankan kehidupannya. Dengan atau tanpa pendamping. Dan dunia ini terlalu banyak kurnia yang harus disyukuri ketimbang mencari2 sesuatu yang mungkin tidak digariskan untuk kita.

Akhirnya, Tuhan yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya menjalankan dengan sebaik2nya, menikmati pemberiannya, dan mensyukuri apa yang diberikan kepada kita.

*terimakasih saya dikaruniai 3 ekor anjing, orang2 yang peduli dengan saya, teman2 yang selalu membuat saya ketawa dan keluarga saya yang menjadi curahan kasih sayang saya.

2/05/2016

Sebuah Petunjuk Kehidupan?

Teman blogging saya, Therry, tag saya di blognya yang berjudul Guide to Life. Petunjuk hidup. Kalau sudah di tag, mustinya saya juga ikutan tulis Petunjuk hidup. Saya sendiri sebenernya rada segan nulis petunjuk hidup, karena saya pikir saya ini siapa sih seolah2 saya sukses bener, kayak yang paling bener sendiri. Padahal petunjuk kehidupan saya juga sering berubah-ubah seiring dengan apa yang saya lihat, saya baca dan teman2 yang saya ajak diskusi.

Sebuah Petunjuk Kehidupan?

Masalahnya, saya sendiri lagi mikirin mengenai hidup. Terus terang, ada saat2nya saya merasa kurang puas dengan apa yang sudah saya capai sampai dengan hari ini. Seolah-olah ada yang kurang rasanya. Memang kalau dilihat secara materi, sudah lebih dari cukup deh; semua yang esensial saya punya. Pekerjaan, tempat bernaung, dapur yang ngebul.

Plus2nya juga lumayan, ada pembantu, supir, tiga anak yang berkaki empat dan mobil. Cuma namanya manusia tetep aja ada yang merasa kurang. Kadang rasanya hidup saya ini monoton, kalau pernah nonton “Groundhog Day”, nah, seperti itulah. Kadang kalau weekend, saya suka baring sambil mikir2 tentang hidup. Tentang diri saya sendiri.

Walaupun saya bukan seorang alim ulama yang sempurna ibadahnya, saya percaya bahwa petunjuk hidup saya yang paling bener adalah Al Qur’an. Semua yang saya perlu untuk selamat ada di kitab tersebut. Jadi kalau ditanya my guide of life, ya itulah, Al Qur’an itu.

Sebisa mungkin, saya mencoba untuk mempelajari dari ayat ke ayat makna isinya dan saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ya gitu deh. Siapa sih orang Islam yang ngga begitu, ngga istimewa juga kan saya?

Beberapa hal yang saya pelajari belakangan ini adalah, bahwa manusia bisa saja merencanakan tetapi hasil akhir Tuhan juga yang mempunyai andil. Saya itu orangnya sangat disiplin, teratur, dari jam ke jam saya sudah membuat rencana apa yang akan saya lakukan. Tetapi toch rencana tinggal rencana. Siapa yang merencanakan kawin kapan dan akhirnya bercerai. Tetapi ternyata survive juga.

Masa2 seperti badai gila itu lewat juga dan saya ngga sinting tuh. Malah saya pikir, hidup saya sekarang jauh lebih baik daripada ketika saya masih kawin, baik secara finansial, maupun spiritual; saya lebih tenang. Mungkin guide saya yang pertama adalah, Keep the faith, tetap yakin dan mempunyai keimanan bahwa semua akan berjalan dengan baik kalau kita berdoa. Doa adalah kekuatan yang luar biasa dahsyatnya untuk melalui masa2 susah, maupun masa2 senang.

Guide saya yang kedua, adalah, jujur. Tidak berbohong kepada diri sendiri, tidak berbohong kepada orang lain. Kepada diri sendiri, mengakui bahwa kita memang ya kita ini, begini, bukan si A atau si B. Inilah saya. Saya tidak suka diperlakukan seperti itu, maka saya katakan dan ungkapkan bahwa saya tidak suka. Honesty is the best policy.

Saya juga tidak perlu meniru gaya hidup orang lain kalau tidak sesuai dengan saya. Saya tidak perlu jadi orang lain agar disukai oleh orang lain. Saya tidak perlu datang dan berbasa-basi dengan orang2 kalau itu tidak membuat saya nyaman. Bagian dari menghargai diri sendiri adalah jujur terhadap diri sendiri.

Pelajaran yang paling penting yang saya dapatkan dari ayah saya adalah, membuat hidup kita berarti bagi orang lain bilamana mampu. Ayah saya selalu mengajarkan untuk memberi daripada menerima. Jangan berhutang. Menurut saya, dengan memberi, saya memiliki power.

Berhutang membuat kita berada dalam posisi yang lemah. Karena itu, jangan mau jadi orang miskin. Miskin duit, miskin pengetahuan, miskin kepribadian. Jadilah orang yang kaya. Karena hanya orang kaya yang mempunyai kemampuan untuk memberi dan mempunyai power.

Selain memberi, juga bisa share. Sharing is beautiful. Kalau kita bisa memberi, kita juga bisa menerima dan terbuka terhadap kekurangan2 yang ada dalam diri kita maupun diri orang lain. Sharing itu berbagi. Hidup, saya rasa, lebih indah kalau bisa kita share. Makanya, kalau saya punya pasangan hidup, yang penting adalah kualitas sharing kami.

Bagaimana kita share waktu, perasaan, pikiran. Pertemanan saya yang berumur panjang dengan teman2 saya umumnya karena kita berhasil sharing. Sementara, relationship saya banyak yang gagal karena gagal sharing. Ada seninya juga berbagi rupanya. Bagaimana kita berbagi tanpa menginjak kaki pasangan kita dan merompak kehidupan pasangan kita. Hmmmh…!

Yang terakhir dan paling sulit menurut saya adalah, sabar. Duh, susahnya jadi orang sabar. Tapi semua orang yang sabar bisa dipastikan akan berhasil. Sabar dan tekun pasti akan membawa kita ke suatu tempat yang lebih baik. Sementara ketidak sabaran tidak akan membuat kita maju selangkahpun. Misalnya, saya sepeeet banget lihat perut saya yang mulai berlemak.

Tapi ya musti sabar ke gym 3x seminggu dan berpegal-pegal ria di hari berikutnya kalau mau itu lemak pergi. Harus bersabar dengan mengubah pola makan dan menahan napsu ngemil. Sabar itu ilmu yang terpakai di segala macam bidang kehidupan. Dan orang tidak ada yang pernah lulus pelajaran bersabar karena ujiannya ada melulu, ngga ada tamat-tamatnya.

Satu hal yang saya masih lakukan adalah melakukan sesuatu yang baru dari waktu ke waktu. Ini penting untuk menambah warna kehidupan. Coba ikut kelas baru di gym, misalnya yoga. Atau coba tekuni hobby baru. Atau sesimple ambil jalan lain menuju ke kantor. Pelajari sesuatu yang baru. Coba menu baru. Paling tidak, ini membuat kita menjadi orang yang mempunyai hidup yang menarik dan tidak monoton.

Mungkin dikala kita ada di persimpangan jalan, sebagaimana saya sekarang merasa ada yang kurang, karena saya merasa hidup saya kurang bermakna karena saya kurang melakukan apa yang ada di atas. Belakangan ini, saya akui saya kurang banyak berbagi dengan lingkungan sekitar saya.

Sepertinya saya banyak terfokus pada kegiatan saya sendiri sehingga tidak merasa mempunyai makna tuh hidup sehari2 saya. Memang paling enak kalau punya pekerjaan yang bisa merubah hidup orang lain menjadi lebih baik, tetapi kalau pekerjaannya seperti saya, ya paling tidak memberi suasana dan lingkungan yang lebih baik terhadap lingkungan kantor saya dan memberikan apa yang saya ketahui kepada yang lebih muda mungkin.

Tidak ada yang istimewa dan baru toch? Semua juga ada di Qur’an bukan? Saya sama sekali bukan expert lho dalam melakukan ini, tapi kalau saya suka gundah, biasanya saya kupas hal2 ini dan coba cari apa yang belum saya lakukan.

Dan hidup ini belajar terus isinya. Kalau kita berhenti belajar dan berkembang, artinya kita sudah berhenti hidup.

2/04/2016

Bedanya Dulu dan Sekarang

Sepulang kantor, kadang saya menunggu macet bersama teman2 sambil ngopi atau makan malam. Biasanya teman2 saya ini para single juga, entah duda atau janda, punya anak atau tidak mempunyai anak. Kebanyakan mereka umurnya 40-an.

Bedanya Dulu dan Sekarang

Sekali waktu, topik yang diangkat adalah bedanya jaman kita dulu pacaran dan sekarang. Dulunya itu waktu kita masih baru2 mulai kerja, memulai karir dan masih bersemangat memandang masa depan. Rasanya dulu semua cerah, bisa dikuasai, bisa diatur, semangat ’45. Kadang setelah pulang kantor masih bisa ‘gaul’ sampai jam 12 malam dan besoknya jam 7 sudah ada di kantor lagi. Rasanya tenaganya masih luar biasa banget.

Setelah umur menginjak 35, baru deh merasa kalau badan ngga sekuat dulu. Begadang makin jarang, lebih suka di rumah kalau tidak penting2 amat. Begitu masuk umur 40, rasanya mulai belagu lagi, tetapi dengan kata lain, belagu ngga mau susah. Ngga mau susah macet, ngga mau susah nunggu, ngga mau susah aja.

Kalau dulu waktu 20-an mau nungguin depan telpon, sekarang telepon ditinggal di charger aja, mau nelpon sukur, ngga juga ya sudah. Kalau dulu diajak jalan dianya ngga mau suka kesel, sekarang ya udah, pergi jalan sama yang available aja.

Dari waktu baru lulus sampai umur sudah 43, hampir seluruh konsentrasi tercurah kepada karir. Alhamdulillah, karir berjalan lancar, rejeki ikut lancar. Kalau dulu makan di pinggir jalan dan asal2an, sekarang lebih selektif memilih makanan dan tempat makan. Pakaian dan sepatu mulai bermerek. Nah, kalau musti nangkring di jalan lagi buat dating, kok kayaknya ogah ya?

Sekali aja sih ngga apa, tapi kok sayang rambut bau asap, sayang rok, terus males juga ya kalau musti turun ke bawah lagi. Kita kan mau perbaikan nasib, bukan maksudnya ngelaba dari pasangan, tapi paling ngga pasangan yang lebih gampang ditoleransilah. Udah males kalau makan di tempat yang ngga ada AC. Males susah judulnya…lha gue sendirian hepi kok, kenapa juga jadi musti makan kringetan sama elu, gitu kan.

Kalau dulu toleransi tinggi, sekarang bener2 ngga mau susah menyesuaikan diri. Misalnya, kalau dulu masih mau nungguin dia kalau telat, sekarang kalau dia orangnya jam karet, 2x telat tanpa alasan tepat dan tanpa kasih khabar, lanjooooot. Atau, “Eh ntar telpon aja kalau udah sampai ya, gue lihat2 baju dulu”. Atau besok2 kitanya ikut2an ngaret.

Kalau dulu masih sabar kalau dia masih ngeladenin temen2 perempuannya, sekarang agak berkurang toleransinya. Misalnya, saya dulu pernah kenlan sama cowok dan dekat, tetapi dia sering cerita, “Eh, aku ke bar kemarin dan kenalan sama cewek”, “Eh, aku sering di-bbm sama orang ini, padahal gue ngga suka sama dia..”. Kayaknya, eh, ngapain sih bilang2, pengen gue cemburu? Hari gini….kalau situ masih mau lihat2 toko sebelah, ya monggo, saya lanjoooot….

Kalau dulu dibela2in dandan kalau mau ketemuan, sekarang sih apa adanya aja deh, yang penting rapih dan bersih. Kalau suka jalan terus, kalau ngga ya lanjooootttt….

Kalau dulu toleransi dengan gaya hidupnya yang agak2 jorok di kos2an, sekarang menganggap kalau jorok2an itu tanda tidak menghargai diri sendiri, jadi bagaimana bisa menghargai orang lain? Kalau dulu tuntutannya tidak terlalu banyak, sekarang rasanya tuntutannya ada aja, kalau ngga, lanjooooot…..kata siapa makin tua makin desperate? Perasaan makin tua makin panjang list yang musti dicontreng.

Mengenai toleransi yang lebih sedikit, mungkin karena kitanya sendiri sudah mulai menemukan gaya hidup yang tetap, yang lebih stabil dan mapan, sehingga malas untuk merubah gaya hidup. Maunya, sesedikit mungkin menyesuaikan diri. Mungkin karena badan dan hati ini juga sudah alot ya…cuma males aja rasanya kalau gaya hidup berubah total.

Misalnya, kalau si dia selalu minta ditemenin makan malam, lha…saya kan biasanya gym dulu..masa’ sekarang gymnya jadi malem banget? Atau dia yang takut anjing, aduh…masa’ tiap dia datang gue musti ngurung anjing2 kesayangan gue sih….

Kalau dulu kita dikasih kado apa aja hayo, sekarang saya terus terang agak menilai pemberian2. Kalau dulu memang duitnya cekak jadi ya masih sama2 dimaklumi, tetapi kalau hari gini ngasih kado yang tidak fungisional, tidak bermanfaat dan murah pula, kok kayaknya jadi mikir, ini orang gemana sih. Memang norak sih, tetapi sepertinya ekspektasi juga semakin tinggi dengan berjalannya usia.

Tante2 saya banyak bilang kalau saya terlalu banyak maunya, terlalu deskriptif, terlalu selektif, milih2. Lha iyalah. Saya kan ngga pernah main2 mencari pasangan hidup, masa ngga selektif? Masa asal ada yang mau aja? Apalagi kan ini untuk hubungan jangka panjang, daripada punya pacar/suami tapi makan hati, mendingan single dan happy aja terus, bukan?

Intinya, sah2 saja kalau semakin tua kita semakin bawel. Wong kita sudah banyak pengalaman, sudah mengalami ini dan itu. Wong kita sudah lebih mapan dalam pekerjaan dan lebih matang dalam hidup. Sudah lebih tahu apa yang kita mau dan apa yang kita harus hindari. Sudah mempunyai beberapa prinsip tambahan dan ekspektasi dari pasangan.

Dan saya percaya, walaupun semakin susah mencari orang yang sesuai dengan kita, pasti masih ada, entah di mana, orang2 yang cocok dengan kita. Yang penting, sabar dan punya pikiran terbuka, ekspektasi tinggi tetapi tidak terlalu nyeleneh dan wajar.

Justru kalau hari gini ekspektasi tidak tinggi, saya jadi mikir, lha, kemana aja saya ini, kok standarnya ngga berubah?

2/03/2016

Pacaran Sama Brondong

Kalau cerita tentang brondong, alias laki2 yang jauuuuh lebih muda, pasti ibu2 dan tante2 pada semangat deh. Bagaimana tidak. Semangat muda, badan masih tegap, syukur2 ganteng, lebih syukur lagi kalau mandiri secara finansial dan dewasa, baik hati dan taat beragama. Duh, ini mah seperti Siti Khodijah dapet Nabi Muhammad kali ya judulnya.

Pacaran Sama Brondong

Definisi brondong bagi saya adalah semua laki2 yang berumur lebih muda 5 tahun daripada saya. Jadi, kalau sekarang saya umurnya 43, yang berumur lebih muda dari 38 tahun adalah brondong. Saya banyak kenal brondong2, in fact, anak2 buah saya di kantor semuanya brondong.

Kalau banyak di lingkungan saya laki2 yang punya pacar atau istri jauh lebih muda (10 tahun, bahkan ada yang 20 tahun lebih muda), kenapa juga kalau perempuan punya suami atau pacar yang jauh lebih muda dilihat dengan beda? Hmmmmh… Entah ya, agak beda aja gitu.

Saya punya beberapa kenalan brondong, ada yang saya kenal di gym saya. Orangnya ganteng, tinggi, model iklan pula. Hebatnya, nih anak sangat taat beragama. Kita sering ketemu hanya buat latihan, tapi kadang2 kalau kelaparan habis latihan saya suka ditraktir makan sate ayam diet, alias sate ayam tidak pakai kulit dan kuah kacang di pinggir jalan.

Ya, namanya juga masih di bawah 30 tahun, masih baru berapa tahun pengalaman di kantor (masih hitungan junior juga mungkin), cukup dihargai bahwa dia mau ambil tanggung jawab membayar makanan, walaupun saya bersikeras untuk traktir dia makan.

Nah, sang brondong ini ibunya saja kurang dari 10 tahun selisih umurnya dengan saya. Selain bicara tentang kesehatan, latihan dan makanan diet, rasanya agak2 susah nyambung juga dengan si anak ini. Selera musik berbeda. Sementara saya tahu persis “Uptown girl” dinyanyikan oleh Billy Joel, dia bersikeras bahwa itu dibawakan oleh Westlife.

Idealisme, ya masih sama tetapi saya sudah agak mulai lebih realistis. Cara memecahkan masalah juga berbeda, kebanyakan karena pengalaman. Kadang dia suka mengeluh tentang pacarnya yang posesif dan bertanya kepada saya bagaimana menghadapinya. Kadang pertanyaan saya malah membuat dia bingung. Kalau saya, lebih bingung dengan model rambutnya.

Intinya, saya jadi mikir, hebat juga ya, orang2 yang punya pasangan 10 tahun lebih muda dari mereka (ya, kalau usia 80 pasangan 70 mungkin ngga terlalu terasa bedanya, tapi kalau umur 40 pacar 30 kan agak2 gemana ya?). Mereka bagaimana ya, kalau ngobrol, apa nyambung ya? Kalau perempuannya yang lebih tua, apa perempuan2 itu masih merasa terayomi atau justru mereka lebih senang dengan posisi mengayomi?

Pernah satu-dua kali saya juga didekati oleh anak muda. Kejadiannya juga di gym. Lagi serius2 latihan, ditegur ramah oleh anak muda kuliahan, mungkin umurnya 20 tahunan. Rambut kribo ngga disisir (ini saya agak susah bertoleransi dengan model rambut anak2 zaman sekarang deh, tapi dari dulu juga saya tidak suka sih dengan cowok gondrong kecuali kalau mereka memang pemain band.

Sekarang malah saya tergila2 dengan kepala botak). Celana pendek nanggung. Pertamanya manggil, “Halo, Tante”. Sebagaimana orang timur, ya saya halo-in juga. Kemudian mulai deh, nyerempet2 begini, “Wah Mbak badannya masih kenceng ya, umurnya berapa? “, dan, “Saya juga dulu punya pacar jauh lebih tua dari saya…” dsb dsb.

Waaah, males nih. Ujung2nya, “Ini, saya manggilnya Mbak atau apa ya?” dan dengan semangat saya menyambut bola lambung tersebut dengan bilang, “Wah, sepertinya saya sama ibu kamu usianya tidak beda jauh, mungkin kamu manggil saya Ibu aja kali ya?”. Besok2nya ketemu di gym tidak berani ngajak ngobrol lagi.

Memang sih, tidak semua brondong itu mau pacaran dengan perempuan yang jauh lebih tua dari mereka karena alasan duit. Tetapi, fakta mengatakan, laki2 itu adalah mahluk visual. Kalau perempuan hatinya dag dig dug dengan mendengar (makanya suka ngga peduli tampang, umur, kekayaan, kalau sudah dirayu suka terkulai), kalau laki2 dag dig dugnya kalau melihat perempuan yang sexy, yang kulitnya mulus, yang cantik.

Sementara, kita2 di usia 40-an ini sudah mulai mendekati masa2 menopause bukan? Kulit mulai ada flek hitam dan tidak sekencang dulu, badan mulai ada lemak di sana-sini, apalagi yang sudah pernah punya anak. Jadi yang dilihat apa? Saya mungkin orang yang skeptis, jadi langsung curiga banget: pasti duit. Sama curiganya kalau perempuan yang muda2 pacaran dengan yang usianya sangat jauh, saya suka mikir, duit kali nih.

Tetapi seperti yang saya bilang bahwa perempuan itu senang merasa diayomi, maka punya laki2 yang jauh lebih tua sebenernya tidak terlalu aneh (apalagi kalau lakinya masih gagah seperti Clint Eastwood, ya wajarlah). Jadi sebenernya brondong2 itu nyari apa sih sebenernya sama perempuan2 yang lebih tua? Figur ibu mungkin? Emang ibu mereka kenapa?

Soal brondong cuma morot juga ceritanya banyak, sama banyaknya seperti cewek muda yang morot om2. Emansipasi barangkali ya. Kalau dengar cerita beberapa teman tentang perempuan2 setengah baya yang punya simpanan brondong, atau punya pacar brondong, kadang suka merinding. Kalau dikenalin sama pacar mereka yang muda banget, saya kok suka merasa ingin melindungi ya, apa karena saya anak paling tua, atau karena memang mereka kelihatannya seperti anak anjing yang musti dilindungi?

Saya punya saudara, janda di usia 42 tahun, dan memiliki anak 2 orang perempuan. Setelah dia cerai, dia sangat tergila2 dengan seorang brondong yang umurnya 25 tahunan umurnya. Dia cerita bahwa sang brondong sangat dewasa, lebih dewasa dari mantan suaminya, dan dia sangat bangga bisa menggaet brondong tersebut.

Padahal, kalau saya lihat di status facebooknya, kalau sang cowok memberi komentar, wah duh, emang itu cowok seolah2 cinta itu bisa mengalahkan segalanya. Gila, hari gini lho. Gue sih udah mesem doang deh, wait until life really hits you, Boy. Melihat potongannya, saya cuma bisa bilang, wah, ini mah kayaknya sodara saya diporotin aja nih, dan si Boy ini sepertinya mokondo alias modal kon… doang nih.

Terus saudara saya ini melihat apa ya dari si Boy ini? Terakhir2, saya mencium bau2 pemorotan oleh si Boy. Waduuuuh, musti 1000x hati2 deh kalau pacaran sama anak 15 tahun lebih muda…tapi kok ya saudara saya bisa sampai buta gitu ya…

Saya pribadi tidak terlalu tertarik berhubungan dengan brondong. Saya menyukai pembicaraan yang dalam, yang banyak didasari pengalaman. Compatibility dalam komunikasi penting buat saya, dan entah kenapa, kebanyakan brondong2 ini masih sangat hijau di mata saya. Saya juga terus terang lebih merasa kagum dan lebih merasa aman disamping laki2 yang lebih tua dari saya.

Saya pernah 2-3 kali punya pacar yang lebih muda dari saya (paling banyak 5 tahun selisihnya), memang fun tapi sepertinya kalau lebih muda dari itu mungkin cuma fun doang deh isinya. Masalahnya, mau ngobrol apa? Sementara saya sendiri orangnya lebih suka dibimbing daripada membimbing.

Kayaknya saya juga males ya, kalau harus “ngasuh”, ngeladenin sifat2 yang kurang matang (yang mana sangat wajar untuk usianya), kok seperti yang balik mengulangi masa2 lalu lagi, ngga maju2. Kalaupun lebih muda, biasanya tidak lebih dari 4 tahun lebih muda dari saya.

Soalnya saya ngga kebayang, kalau tahu2 ngenalin pacar yang lebih muda dari adik saya yang paling muda…waaaah….dan terus terang kalau saya lebih terkulai dengan figur laki2 dewasa dibandingkan dengan figur boys band dengan model badan ala Cangcuters dan rambut yang saya tidak mengerti modelnya apa. Sementara saya jam 10 malam sudah ngantuk, eh dia malah ngajak nonton midnight?

Atau sementara saya sudah ngos2an lari, sementara dia masih semangat ’45 kalau jogging bareng? Atau saya diajak nonton konser yang nama bandnya sama sekali tidak saya kenal? Yang lebih parah lagi kalau sudah serius, bisa jadi dia pengen punya anak, sementara saya sudah ngga mikirin punya anak?

Memang nasib dan masa depan serta jodoh tidak ada yang tahu, tetapi sampai sekarang ini saya belum bisa membayangkan punya pacar 10 tahun lebih muda dari saya. Mungkin kalau nanti usia saya sudah 80 dan saya sudah tidak se’belagu’ sekarang

Ya…tapi rasanya selisih umur yang sangat banyak dalam pasangan bukan sesuatu yang ada di dalam menu makanan sehari-hari saya. Sampai saat ini, paling2 saya cuma mengagumi kebeliaan mereka saja, sambil ingat2 saya lagi seperti apa waktu saya masih seumuran mereka.

2/02/2016

Selamat Tahun Baru!

Akhirnya 2010 berakhir juga. Rasanya tahun ini penuh dengan usaha untuk melupakan luka yang terjadi di Bulan Februari karena putus sama pacar yang sudah lebih dari setahun dipacari (teganya putus paaaas sebelum valentine’s day…*cakar aspal*).

Selamat Tahun Baru!

Memang Bulan Agustus ada seseorang yang sempat mampir dalam hidup tapi itu juga tidak berlanjut serius. Sehingga, akhir tahun ini saya jomblo kembali.

Kalau dipikir-pikir lagi, hampir tiap tahun semenjak saya cerai, saya sendirian di malam tahun baru. Ada malam ketika saya hanya bersama sahabat saya, si Uni dan si Atun, anjing saya, di Apartemen Rasuna. Ada yang hanya berlalu begitu saja, tidur dan tahu2 bangun sudah tahun baru.

Ada yang di plan tahun baru ke Menado tapi pulang dipercepat karena lebih baik sendirian di rumah, merenung ditemani sebotol wine. Rasanya 3 tahun belakangan ini lebih banyak di depan TV sambil minum bersama anjing2 saya.

Tahun ini ada 2 anggota baru dalam keluarga saya yang menemani bermalam tahun baru, si Ruby dan si Choki. Pastinya sih buka botol lagi malam ini, walaupun tidak akan saya habiskan (atau mungkin saya habiskan?). Kadang2 malam tahun baru suka merasa terharu (atau sedih?).

Terus terang, mendekati tahun baru 2011 ini, saya agak merasa biru. Entah pengaruh ulang tahun ke 43 saya, entah pengaruh hormon, saya kurang tahu juga ya.

Tahun 2010 memang tahun penuh dengan mengobati sakit hati. Memang rasanya terbuang percuma deh, paling tidak setengah tahun lebih dikit isinya hanya mencoba untuk kembali bangkit lagi. Untungnya saya punya temen2 yang baik hati dan mau menemani saya kapanpun buat curhat, seperti Muin, Kiwir, Uni, Mba Bidi dan Nia.

Untungnya juga saya punya duit buat pergi nyelem dan pergi jauh menghibur hati yang luka. Untungnya lagi, saya punya duit untuk beli minuman berkadar alkohol ‘agak’ rendah juga. Tapi tetap saja waktu dan pikiran positif yang membantu untuk bangkit kembali.

Tapi memang benar sih, kalau disakiti laki2, obatnya laki2 lagi. Yang membuat saya lupa sama my true love (*taelah*) adalah si lelaki yang menongol di akhir Bulan Agustus. Memang yang namanya rebound itu ada ya, hahaha.

Dari sisi pekerjaan, 2010 bisa dianggap sukses, walaupun menurut saya ngga sukses2 berat amat sih. Tapi sebuah sumur berharga USD 42 juta ditaruh di pundak saya dan tim saya tahun ini dan berhasil menemukan gas dan oil, itu sebuah achievement dalam karir saya, paling ngga CV saya cemerlang. Ya, paling tidak prestasi saya di tahun 2010 dalam hal pekerjaan tidak mengecewakan siapa2 deh.

Tapi kadang saya mikir, kok selalu begitu ya. Pekerjaan bagus, tapi kehidupan cinta kok ngga ada kemajuan ya. Masih saja belum menemukan soulmate. Ke mana sih mereka? Atau tepatnya, di mana sih saya ini? Herannya, baru tahun ini berasa agak kehilangan seseorang, walaupun seseorangnya tidak tahu siapa. Mungkin mulai bosan saja beberapa tahun berturut-turut kok tahun baruannya begitu2 saja.

Ngga sharing special moments penuh harapan2 dengan seseorang yang berarti. Dan semua orang bingung pas saya bilang saya ngejomblo di rumah tahun baruan. Atau mungkin ada yang tidak seimbang yang saya lakukan selama ini sehingga lebih berat sebelah ke pekerjaan? Hmmh…sesuatu yang perlu dipikirkan.

Pada dasarnya, saya memang orang yang suka menyendiri. Dan salah satu yang saya syukuri adalah, saya tidak perlu berdebat dengan seseorang untuk pergi ke suatu tempat merayakan malam tahun baru. Tidak ada yang memaksa saya untuk melakukan sesuatu yang saya tidak mau hanya untuk mengikuti tradisi. Saya bisa tenang dengan pikiran saya sendiri, menikmati kesendirian, dan terutama merenung sambil berdoa di tengah malam.

Well, mungkin belum ada saja. Untuk saat ini, mungkin Tuhan beranggapan bahwa apa yang saya punya sekarang ini yang terbaik bagi saya. Cinta dari 3 ekor anjing, dibandingkan 2 ekor seperti tahun lalu. Malam ini, saya akan duduk di depan TV melihat orang2 merayakan tahun baru, mendengarkan terompet ditiup dengan meriah, sembari santai dan memikirkan apa saja yang telah saya lakukan di 2010 dan apa yang bisa saya perbaiki di 2011.

Tetapi yang pasti, saya akan menikmati apa yang ada di hadapan saya dan berharap apa yang ada sekarang ini berlangsung untuk saat yang lama. Sambil berdoa, semoga tahun depan saya masih di dalam lindungan-Nya dan senantiasa diberikan yang terbaik bagi saya. Amin.