2/13/2016

Semakin Tua, Cinta Dikalahkan Kenyataan?

Kemarin saya baru bergabung dengan geng saya waktu di SMP di blackberry groups. Semuanya cewek, jumlahnya ada 9 orang (sebenarnya 15, tapi yang bisa dikontak dan punya bb cuma 9). Dari ngobrol menanyakan khabar, ada 4 diantara kami yang janda, dua di perkawinan kedua. Ternyata hidup tidak selancar di filem2 ya…

Semakin Tua, Cinta Dikalahkan Kenyataan?

Biasalah, setelah menanyakan khabar, lokasi dan kesibukan masing2, kita ngobrolin teman2 yang lain, lalu mulailah ajang perjodohan. Kemarin yang jadi bahan poyok2an adalah saya. Mulai dari dijodohkan dengan teman SMP (yang diprotes sama teman2 yang lain) sampai tahu2 ada satu orang yang bilang, “Ini ada temen gue yang nyari istri, duda anak dua.

Posisi di kantor lumayan tinggi, mapan deh. Putih, tinggi. Islam.”. Nah lho. Ramailah yang lain menyahut supaya gayung ini bersambut. Sementara saya anteng2 saja. Yang menjodohkan rada serius, sambil mengatakan kalau saya mau, akan dihubungi. Lha saya kok malah takut.

Waktu dulu masih umur 20-an, rasanya dikenalin ngga ada takut2nya. Mulai pacaran juga ngga ada takut2nya. Ya mungkin waktu itu masih penuh angan2 dan harapan, apalagi namanya baru meniti kehidupan yang sebenarnya. Sekarang sudah 40-an, sudah punya kehidupan sendiri, akhirnya mulai mikir, hmh, apa iya saya butuh pendamping ya? Apa iya saya perlu hidup seatap dengan seseorang dan menyesuaikan diri lagi dengan orang lain?

Saya bandingkan dulu waktu masih lebih muda, kalau mau dikenalkan sama orang paling nanya, kerja di mana, tamatan mana. Sekarang pertanyaannya lebih belerot-lerot deh, perasaan. Mulai dari kerja di mana. Tinggal di mana. Kerjaannya apa. Anaknya berapa. Suka anjing apa ngga. Suka olahraga apa ngga. Orangtuanya masih ada apa ngga. Yang mana, pertanyaannya berkisar antara, apa dia bakal nyusahin gue apa ngga, atau, apa gue musti nyesuaiin diri terlalu banyak sama dia apa ngga.

Masalahnya begini. Misalnya kalau dulu saat romantisme menggebu-gebu, ga apalah pacar ngga punya mobil, kemana-mana naik motor. Nanti juga kalau kerja agak lamaan bisa nyicil mobil abis kawin. Gitu kan pikirannya. Kalau sekarang, mikir pacar pengangguran dan ga punya duit pastinya mikir, “Gile, hari gini ga ada duit, trus ntar mau numpang hidup ama gue? Sementara tanggungan gue juga bukannya ngga ada.”.

Atau, kalau dulu jarak jauh ayo dijabanin aja. Long distance relationship, makin bikin hot aja. Sekarang, haduh, hari gini, terus kalau gue mau ngobrol atau lagi butuh teman curhat, jauh amat…capek hati, biar kata ada skype juga, males deh. Iya, mungkin itu kata yang tepat, MALAS. Sudah lebih malas untuk menaruh effort untuk relationship yang butuh terlalu banyak usaha.

Atau, dalam kasus cowok yang mau dikenalin ke saya, pas saya tanya rumahnya di mana, wuiiiih, Jakarta coret, bo. Maksud gue, kalo tahu2 jadi, gue musti bangun jam berapa ke kantor? Sekarang kan enak, di tengah kota, itu aja udah macet2an. Apalagi nun jauh di sana, trus gue mau ke gym gemana?

Makanya, kalau saya dikenalin, lebih senang kenalan sebagai teman saja. Ngeri kenalan sama orang yang seperti ngejar target mau kawin lagi atau nyari istri lagi. Soalnya saya ngga buru2, saya ngga ngejar target. Saya ngga takut kalau ternyata sendirian seumur hidup, saya ngga khawatir ngga ada yang naksir karena saya sudah peot. Tapi saya khawatir kalau pihak sana berharap terlalu banyak, karena saya juga lumayan demanding. Ya iyalah, masa’ abis pacaran terus kwalitas hidup menurun?

Sebenernya bener ngga sih jalan pikiran saya? Maunya kan setelah punya pasangan, maunya hidupnya lebih tenang, lebih enak. Kwalitas hidup lebih baik. Kalau jadi lebih menurun, ngapain juga?

Misalnya nih, sekarang saya punya 3 anjing, rumah biar nyewa juga di tengah kota, relatif dekat ke kantor. Mobil lumayan oke. Trus tahu2 kawin, pindah ke pinggiran kota, ganti mobil yang lebih irit, trus anjing2 saya tidur di luar, ngga di kamar seperti sekarang. Lhaaaaaa……apa ngga mendingan hidup begini saja dan kita sebaiknya berteman saja?

Itu yang saya mau sebenarnya dari ajang2 perjodohan ini. Kenal, berteman, tanpa berharap masuk ke kehidupan saya. Makanya kalau ada yang bilang, “Ini ada yang lagi cari istri” saya suka bilang, “Saya lagi ngga cari suami. Tapi kalau temenan saja mau”. Trus orang yang mau ngenalin nyangkanya kita belagu. Apa iya belagu?

Intinya, semakin kita tua, toleransi semakin rendah karena sudah punya kehidupan yang lebih stabil dan malas merubah kehidupan dan kebiasaan itu. Dikit2 ya ngga apalah, tapi kalau sangat mayor, ya malas juga ya, saya sih malas. Maunya perubahan hidup ya tidak terlalu banyak berubah, paling tidak yang rutin2 dan kebiasaan2 yang bagus tidak ingin kita tinggalkan.

Kalau bisa, jangan ada yang berubah kecuali kita jadi punya companionship, teman curcol, teman ngobrol, jadi lebih enak. Alhasil, saya lebih suka berteman dulu, baru nanti lihat seperti apa, apa saya bisa menerima kehidupannya atau tidak. Makan waktu lama kan. Saya ngga buru2 juga. Available but not looking kan, mottonya. Bagaimana dengan Anda?

2/12/2016

5 Tahun Single, Is Not That Bad

Selagi facial di salon, tiba2 saya ingat tanggal. Wah, besok tanggal 8 Agustus ya. Saya jadi ingat, pada tanggal 8 Agustus saya resmi cerai dari suami, resmi jatuh talak 1 di Pengadilan Negri Jakarta Selatan.

5 Tahun Single, Is Not That Bad

Saya ingat betul bahwa saat itu saya datang dengan ojek, dengan baju kantor ke KUA. Saya masih ingat betul baju saya: atasan berwarna pink dan rok hitam. Rambut saya ikat satu. Saya tidak membawa mobil, tapi saya ke kantor dulu, kerja, baru ke KUA naik ojek sambil menguatkan hati. Saya datang sendirian ke sana.

Selagi menunggu beberapa saat, sang suami muncul. Lalu setelah menunggu giliran, masuk ke ruangan, jatuh talak, kemudian saya salam2an sama hakimnya. Entah waktu itu diberi selamat atau apa, saya lupa. Yang saya ingat lagi, saya diberikan tebengan ke kantor sama bekas suami saya. Sembari dia mengembalikan kartu kredit tambahan dan saya kembalikan ATM, saya di drop di gedung kantor di bilangan Gatot Subroto.

Lalu saya kembali bekerja lagi. Seolah tidak ada perasaan apa2…mungkin karena sudah hidup terpisah selama beberapa bulan ya, jadi sudah tidak ada perasaan lagi. Malah sorenya, sahabat saya muncul di apartemen waktu itu, lalu saya tunjukkan surat talaknya sambil becanda, “Sudah lulus, ada ijazahnya”.

Ini hanya sekedar cerita saya waktu ke Pengadilan Agama waktu cerai. Karena kami berdua sepakat perkawinan tidak bisa dilanjutkan lagi, maka kita berpisahnya baik2. Syukurlah, karena banyak yang berpisah dengan sulit, terutama kalau menyangkut harta gono gini. Kita tidak ada harta yang patut diperebutkan, sehingga lancar2 saja; mungkin tidak lebih dari 6 bulan setelah mengajukan permohonan cerai, kami disidang.

Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa saja. Kerja 5 hari seminggu, cari rumah kontrakan, membawa anjing saya 2 ekor ke rumah. Beberapa waktu kemudian, saya juga mulai membuka diri, ketemu dengan orang2, menjalin hubungan (yang akhirnya putus juga) atau ya cuma ketemu orang yang tidak cocok saja. Kembali seperti waktu masa kuliah dulu: ada yang tertarik, ada yang menarik, ada yang jadi kemudian putus. Patah hati, bangkit kembali, ya, begitulah seterusnya.

Selama 5 tahun ini, saya lihat2 ke belakang kembali. Apakah hidup saya lebih baik dari waktu saya masih menikah? Yang pasti, setelah pindah ke rumah kontrakan, saya merasa jauh lebih tenang karena berkumpul dengan dua anjing2 kesayangan saya kembali, setelah hampir 2 tahun berpisah.

Secara finansial, alhamdulillah saya tidak kekurangan, malah bisa dibilang saya bisa menabung lebih banyak. Teman2 saya masih tetap ada, kami saling memperhatikan dan saling care terutama yang sesama single. Kita suka ngopi bareng, nonton bareng, melakukan aktivitas bersama.

Keluarga juga tidak terlalu memusingkan status saya sekarang. Mereka sudah bisa menerima saya apa adanya. Sekarang saya punya keponakan 2 orang yang lucu2, yang masih bertanya kenapa saya tidak ada suami. Saya sendiri merasa saya sudah bisa menerima keadaan saya dan status saya yang baru ini begitu jatuh talak.

Ada perasaan lega karena status saya sudah jelas sekarang: janda. Single. Sehingga kalau saya berjalan dengan teman2 tanpa suami saya sudah enak, tidak ada kalimat2 sumbar yang sampai di telinga ibu bapak saya. Lagipula, single juga bukan berarti lalu kelayapan seperti kuda liar.

Lima tahun kebelakang ini, saya malah lebih betah di rumah. Kalau waktu masih menikah dulu sering ke luar rumah ketemu teman2 karena tidak betah, sekarang malah di rumah sampai pembantu saja bilang saya kurang gaul. Mungkin juga karena usia yang semakin bertambah, rasanya saya sudah tidak perlu mencari eksistensi dan pengakuan dari orang2 lain bahwa saya masih menarik atau sejenisnya.

Ngga tebar pesona deh, santai bener. Saya punya teman yang setelah cerai malah kehidupan malamnya semakin menjadi. Kalau saya, malah sering tidur cepat. Paling2 ke gym kalau pulang malam. Atau makan malam sama teman yang berakhir pada pukul 9:00 malam, tidak lebih. Waaaah….berasa tua.

Memang selama lima tahun ini bukannya semua gampang. Karena semua saya tanggung sendiri. Kadang2 rasanya ingin ada teman berbagi kalau lagi gundah, tetapi ya masih ada teman, masih bisa ngobrol, walaupun tidak setiap saat bisa. Kalau sakit, sendiri. Paling teman2 juga yang memperhatikan. Tapi tidak apa, saya pikir2, it’s not that bad.

Harus lebih pandai2 menjaga diri supaya tidak terlalu menyulitkan orang lain saja. Kadang sih suka merasa, “Aduh, coba ada yang bisa diajak ngobrol atau diskusi”. Tapi terus ingat, “Lebih parah lagi dulu, ada orang yang mustinya bisa diajak diskusi tapi tidak bisa…”. Mending sendiri jumpalitan daripada double tapi masih jumpalitan juga.

Tapi memang sih, enak rasanya kalau ketemu pasangan yang cocok dan melalui hari2 bersama. Melalui ke-bete-an hari Senin bareng, ada temen curhat, ada teman ketawa, ada teman sandaran. Mungkin satu saat nanti masih ada disediakan Tuhan jodoh yang tepat untuk saya. Tapi untuk sementara ini, rasanya 5 tahun terakhir ini kehidupan saya cukup baik. Ternyata hidup single itu tidak semenakutkan sewaktu saya dulu bimbang memutuskan cerai atau tidak.

Jalani saja. Let it be, there will be an answer, let it be.

2/11/2016

Sebenarnya Tak Ingin Single

Lagi iseng lihat timeline tweet mengenai show Single Ladies. Terus ada yang memberi komentar2 miring, seperti cewek2 single sebenernya di dalam hatinya tidak kepengen single. Waduh.

Sebenarnya Tak Ingin Single

Semestinya menjadi single atau double itu harus menjadi pilihan ya. Maksudnya, kita kan orang2 dewasa (kecuali hidup di zamannya Siti Nurbaya yang musti dikawinin sama Datuk Maringgih). Mau kawin atau tidak, idealnya tidak ada pemaksaan. Jadi harusnya mau status kita itu apapun juga, musti dinikmati sehingga tidak merasa terpaksa menjalaninya.

Kadang saya juga ditanya, apa tidak mau punya pasangan lagi?

Well…ya mau saja kalau pasangannya memang membawa kebahagiaan dan bisa saling melengkapi kebutuhan. Tapi kalau tidak ada juga kehidupan saya sekarang ini tidaklah terlalu buruk. Banyak waktu untuk diri sendiri misalnya untuk baca buku, main sama anjing2 sampai puas, dan bisa mengatur waktu sendiri tanpa pertimbangan terlalu banyak. Not a bad life at all.

Kuncinya dinikmati saja. Kalau memang kepengen punya pasangan, ya harus ada usaha mungkin ya. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kalau kita usaha dan diniatkan, seluruh muka bumi akan mendukung dan mengkondisikan situasi sehingga doa kita terkabul.

Mungkin kalau saya bener2 niat ingin punya pasangan, sekarang saya sudah punya pasangan ya (apalagi banyak bener nomor telepon bertebaran di blog ini…).  Dinikmati saja….

2/10/2016

Jenis Undangan Berdasarkan Usia

Saya sedang sendirian ketika terima sms dari temen yang mengajak untuk reunian. Kali ini reuni untuk memperingati teman2 seangkatan yang sudah meninggal. Karena kelompoknya tidak besar dan diadakannya di rumah teman yang dekat dengan rumah saya, saya datang

Jenis Undangan Berdasarkan Usia

Sesampai di sana, kita bicara mengenai berita2 yang kita terima dan biasanya seputar teman yang sakit, teman yang baru sembuh, dan sekarang beberapa teman yang meninggal karena stroke, jantung, maupun kanker.

Jadi mikir, beda ya, undangan2 yang kita terima di tiap-tiap dekade dalam kehidupan. Coba pikir:

Pesta ulang tahun anak2, pasti ada tiup lilinnya. Ketika kita masih anak2 dan remaja, kita biasanya menerima undangan ulang tahun dari teman. Pembicaraan juga ngga jauh2 dari pelajaran, permainan, ulangan dan yang sejenisnya.

Sewaktu kecil, undangan pesta kalau tidak ke rumah dengan mengundang badut, ya di McDonald atau tempat2 fastfood lainnya dengan badut juga. Sementara di usia belasan, biasanya cuma dikasih duit sama orang tua terus terserah mau traktir teman2 ke mana.

Ketika kita mulai memasuki akhir usia belasan tahun, kita mulai sibuk dengan undangan dari universitas-universitas. Mungkin tidak literally mereka mengundang, apalagi yang sudah mapan dan ngetop, tetapi iklan di koran kan tetap saja bisa dihitung sebagai undangan massal, bukan?

Ketika kita memasuki usia 20-an, kita sibuk dengan kuliah. Tetapi kita juga mulai lulus kuliah, dan biasanya teman2 yang perempuan beberapa saat kemudian menyebarkan undangan kawin. Rasanya waktu saya di usia 20-an, hampir tiap weekend ada acara resepsi perkawinan. Soal kesehatan, jarang diomongin. Biasanya kuat pesta dari malam hingga pagi terus paginya langsung masuk kantor.

Ketika awal memasuki usia 30-an, kita masih banyak menerima undangan kawin, tetapi kali ini kebanyakan teman kita yang pria yang mulai mengikat janji setia dengan pasangannya yang berumur 20-an.

Di usia ini juga kita sering menerima undangan sunatan, atau mendengar kabar teman2 kita mulai mempunyai momongan. Atau mungkin saudara kita mulai menikah dan mempunyai momongan, sehingga kita mulai dipanggil tante atau om.

Memasuki usia 40-an, mulai badan terasa tidak terlalu fit seperti dulu. Kalau dulu kuat begadang, sekarang untuk recover dari pesta semalam rasanya butuh waktu 2 hari. Mulai deh, kita membandingan suplemen apa yang teman2 kita konsumsi.

Jenis “undangan” juga mulai berbeda. Biasanya undangan reuni, tetapi kegiatan juga mulai nambah dengan menjenguk teman yang sakit karena penyakit jantung, stroke maupun penyakit2 yang dulu rasanya jauh tetapi sekarang teman2 kita mulai mengidapnya. Sakit punggung soal yang biasa.

Di usia ini juga kita mulai dengar teman2 yang perkawinannya tidak mulus dan sampai cerai. Di usia 40-an ini, orang tua dari teman2 kita juga sudah pada mulai menghadap-Nya. Rasanya umur 40-an ini adalah titik tolak dimana kita mulai memikirkan hal2 yang lain selain hal2 yang duniawi. Titik spiritualitas manusialah.

Masuk umur 50, kita mulai menerima undangan ulang tahun setengah abad. Kemudian disusul dengan undangan kawin anak2 dari teman2 kita yang berumur 20-an. Mulai depresi juga ya, mendengan teman2 kita anak2nya sudah tamat kuliah, cari kerja, kawin, rasanya mulai terasa kalau memang umur sudah tidak muda lagi. Teman2 juga sudah mulai berguguran dan sebagian mulai keluar penyakit2nya, upah dari kebiasaan2 ketika masih muda dulu.

Masuk umur 60-an, saya musti ingat2 kehidupan orang tua saya ketika mereka di umur segini. Rasanya hampir tiap hari ada undangan kawin anak dari kenalan mereka. Selain itu, mereka mulai terdengar pergi melayat. Kadang kenalan dekat mereka, kadang tante atau om kita yang meninggal dunia.

Rasanya juga penyakit yang dulu rasanya jauh bener mulai mengintai diri masing-masing. Kalau di umur 40-an menelan suplemen, di umur 60 mulai membiasakan diri dengan memakan obat2an yang kalau tidak diminum fatal akibatnya. Kalau reunian dulu di tempat kawinan, sekarang kalau tidak di rumah sakit lagi antre obat, medical check up, atau ya, kawinan anak2 teman.


Masuk umur 70-an, rasanya jatah undangan kawin berkurang tetapi lebih sering melayat atau mengunjungi teman atau keluarga di rumah sakit. Kalaupun menerima undangan kawin, paling datang pas akad nikahnya saja, sedangkan resepsinya lewat, karena sudah tidak kuat begadang, atau menu makanan sudah khusus, atau tidak kuat duduk lama. Tante2 saya dan orang tua saya sudah dalam tahap umur segini. Bukan penyakit lagi yang mengintai tetapi maut.

Kalau saya pikir2, sekarang2 ini saya mulai banyak bicara dengan kawan mengenai teman2 yang sedang sakit, baru sakit. Kebanyakan sakit jantung dan stroke, atau masalah dengan cholesterol, tekanan darah, dan yang paling ringan, ketarik otot punggung (ini saya juga sering banget). Undangan kawin kawan sudah langka banget, berita teman cerai mulai terdengar, orang tua teman yang meninggal juga sering terdengan.

Kawan yang meninggal pun sudah ada satu dua. Senior2 saya sudah pada mulai ngawinin anaknya. Anak2 teman saya yang perempuan sudah SMA, bahkan sudah ada yang kuliah, membuat saya merasa semakin tua karena rasanya baru tahun lalu selesai sorak2an pakai jaket kuning Himpunan Mahasiswa Geologi ITB di Aula Barat.

Di kantor juga selisih umur dengan staf yang termuda sudah bilangan kepala dua. Rasanya sudah berumur banget dan juga rasanya kita sudah sampai titik tertentu di mana kita bisa bilang, “Saya sudah sampai di sini dan saya bangga”.

Tidak semua yang saya lalui itu menyenangkan. Ada beberapa tahap dimana saya bingung dengan langkah karir. Malah di umur 30-an saya sudah menyandang titel janda, yang merupakan titik melakukan “Plan B” setelah Plan A gagal total.

Tetapi saya hanya melihat ke belakang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Mungkin di masa depan saya akan melakukan kesalahan yang lain, yang akan menjadi masa lalu di usia saya yang nanti lanjut. Namun saya berusaha tidak takut mengambil resiko karena hidup ini hanya sekali.

Paling tidak saya bisa mengatakan saya sudah melaluinya dan tiap2 umur yang saya lalui membuat siapa saya sekarang ini. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya tidak menyesali sedikitpun apapun yang saya lalui, paling tidak bukan suatu penyesalan yang berarti. Thanks to my parents yang senantiasa selalu membimbing saya sampai usia saya sekarang ini.

Nikmati hidup, lakukan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, jangan pernah menyesal.

2/09/2016

Kalau ke Pesta Sendirian

Undangan kawinan (sekarang yang kawin anaknya senior, bukan temen lagi…berasa makin tua ngga sih?). Pernah nggak rekan2 yang single merasa mau pergi pesta dengan siapa? Atau pernah nggak tidak datang ke kawinan karena ngga ada teman?

Kalau ke Pesta Sendirian

Banyak temen2 saya yang single kelimpungan cari temen buat datang ke pesta kawinan. Banyak yang malas datang sendirian. Bukan hanya perempuan saja, laki2 juga ternyata begitu. Tidak segan2 minta tolong nemenin kalau ada acara kawinan, sementara status masih jomblo.

Sebenernya kenapa ya, rikuh pergi sendirian ke pesta? Toh pestanya orang yang kita kenal. Nanti di keramaian juga kita berbaur dengan tamu lain atau ketemu dengan teman2 atau rekan2 kantor lainnya yang diundang. Atau, kalau pesta keluarga, toh kita sebagian besar kenal dengan mereka dan mereka tahu statusnya kita itu single.

Beberapa teman yang saya tanya bilang, “Ah, males aja masuk ke ruang undangan sendiri”, “Nanti di sana bengong2 ngga tahu ngobrol sama siapa”. Atau malah ada beberapa yang merasa malu datang sendirian. Lho.

Saya kebetulan, mungkin, either kulitnya tebal atau sangat praktis dalam memandang hidup ini, belum pernah merasa males ke pesta sendirian. Beberapa kali saya datang sendirian, turun dari taksi dan masuk ke ruang kondangan sendirian untuk kemudian berbaur bersama tamu2 yang lain.

Karena saya merasa saya datang untuk menghormati dan turut berbahagia atas hajat si empunya acara, jadi ya saya tidak pernah merasa salah tingkah kalau datang ke pesta sendirian. Memang ada beberapa trick untuk datang ke pesta sendirian, yang nanti saya akan kasih tahu tapi sabar2 dulu ya.

Kalau pesta kawinan ala barat, biasanya yang single2 didudukkan di meja bersama dengan para singleton yang lain. Tujuannya supaya sesama single berbaur dan mungkin klik dan bisa berlanjut. Intinya, supaya tidak canggunglah.

Pesta seperti ini saya suka, karena saya jadi punya kenalan baru dan kadang kalau si empunya hajat pintar, yang punya hobby mirip didudukkan saling berdekatan sehingga ada materi pembicaraan.

Kalau pesta resepsi ala Indonesia, sebenernya lebih enak lagi. Karena begitu banyaknya undangan, orang2 tidak terlalu memperhatikan kita celingak celinguk. Kita bisa datang, cari teman yang mau antri salaman, atau makan dulu sambil nyari temen yang belum salaman, lalu salaman bareng2 biar antrinya tidak lama dan perut sudah tenang sambil ngobrol2.

Cocktail party juga biasanya gampang. Biasanya event2 seperti pembukaan sesuatu, peluncuran buku, atau event kantoran atau profesi, banyak yang datang sendirian juga, sehingga tergantung kita saja apakah kita mau jadi manusia ramah atau manusia antisosial.

Lagipula, acara seperti ini terbuka, dalam artian, kita bebas pulang kalau kita merasa bosan karena hanya mingle2 saja. Beberapa acara ulang tahun juga demikian, tetapi kita biasanya harus nunggu tiup lilin baru bisa minta izin pulang kalau tidak betah.

Yang sulit kalau diundang gala dinner. Biasanya pesta seperti ini untuk penggalangan dana. Acaranya duduk di satu meja bundar bersama mungkin 10 orang dalam meja, lalu ada acaranya. Biasanya acara terakhirnya lumayan bebas alias berajojing dan kita bisa pulang. Tapi selagi cara makannya, kalau kebagian teman semeja yang ngga asik bisa bete’ sendirian.

Kalau pesta begini, memang paling enak bawa teman karena bisa celingak celinguk ga tau mau ngobrol apa, apalagi kalau di meja kita semua bawa pasangan atau teman, paling ngga tidak diem saja di meja. Tapi sekali lagi, kalau yang punya hajat tahu kita single, kita akan disatukan dengan yang datang sendirian juga. Biasanya pesta model begini RSVP, sehingga yang mengatur meja sudah tahu mengatur tamu duduk di mana.


Yang paling sering kita datangi tentunya pesta kawinan. Rikuh? Ini tips saya:
  • Nomor satu adalah percaya diri. Caranya, kita tampil prima. Pakai baju yang bikin kita merasa paling cantik. Pakai make up tanpa cela. Kalau perlu pakai tukang dandan di salon. Tata rambut sehingga kita kelihatan lain, alias membuat pangling. Pokoknya, segala cara supaya kita merasa PD. Lalu masuk ke pesta kawinan seolah-olah Anda menjadi perhatian semua orang. Karena sendiri, perhatian tentunya untuk kita, bukan pasangan kan?
  • Kalau ke pesta kawinan, jangan datang sebelum pengantin tiba atau datang terlalu tepat waktu. Datang terlambat. Misalnya pestanya malam, datangnya jangan jam 7 tetapi jam 8 ketika orang masih ramai tetapi antrian salaman sudah pendek dan orang2 sudah mulai sibuk makan. Jadi tidak sempat bengong sendirian. Yang pasti, datang pas acara makan sudah dimulai.
  • Begitu datang, langsung ke tempat makan adalah ide yang baik. Sembari kita antri makan dan sibuk, biasanya ada teman yang lihat dan nyamperin, lalu kita tahu dimana teman2 kita yang lain pada bergerombol.
Yang penting, sibukkan diri kita dengan makan, atau pura2 makan, karena kita jadi tidak salah tingkah. Sementara makan, lirik2 kalau ada yang kita kenal. Kalau tidak, konsentrasi penuh pada makanan, salaman, lalu langsung pulang.

Kalau pestanya duduk?
  • Dengan anggapan duduk dengan orang2 yang cocok, perkenalkan diri sendiri kepada orang2 semeja makan.
  • Paling tidak tahu dengan nama orang di sebelah kita. Pertanyaan standar: kerja di mana, kenal yang punya acara dari mana, dll. Siapkan list pertanyaan dari rumah kalau perlu, pertanyaan2 ‘ice breaker’.
  • Kalau yang duduk di sebelah kita kelihatan tidak tertarik ngomong dengan kita tetapi lebih tertarik ngobrol dengan pasangannya, ya biarin saja. Untuk itulah kita punya yang namanya smartphone, bisa update status di Twitter atau Facebook. Alias kita apes. Kalau sudah begini, tunggu sebentar, numpang ke belakang, lalu cari alasan untuk bisa meninggalkan pesta dengan segera. Paling tidak, jangan mau rugi, habiskan dulu makanan, baru kebelakang.

Enaknya kalau ke pesta sendirian adalah, kita tidak perlu menunggu teman atau pasangan kita untuk pulang. Kita bisa pulang seenak diri kita sendiri kalau sudah merasa capek atau bosan. Dan yang penting, PeDe!

2/08/2016

Pergi Berlibur ke Raja Ampat


Akhirnya, bulan yang ditunggu2 untuk cuti 7 hari penuh datang juga. Dari tahun lalu, saya dan teman2 saya yang doyan menyelam ini membuat dan menabung untuk bisa meluncur ke Wayag, suatu pulau yang ada di wilayah Kepulauan Raja Ampat, Papua.

Pergi Berlibur ke Raja Ampat

Memang libur sebelumnya belum terlalu lama, waktu saya pergi ke Siem Reap, Kamboja (sekedar menghabiskan waktu Valentine bersama teman2 sesama single, ketimbang jomblo di rumah?). Tetapi liburan kali ini bener2 liburan: jauh dari kota (di tengah laut) tanpa sinyal.

Hanya satu yang memberatkan saya untuk pergi jauh dan lama2: anjing2 saya. Namun sudah ada Al, sang asisten, yang akan menjaga guguk2 saya. Maka berangkatlah saya berlibur bersama teman2 saya, dan bertemu dengan 5 orang teman baru yang bekerja di Freeport.

Berkumpullah 12 orang penyelam yang siap mengeksplorasi perairan timur Indonesia. Dari keduabelas orang di dalam tim kami, empat adalah perempuan, dan semua single. Yang laki2 semua sudah menikah, kecuali satu (yang berumur hampir separuh dari umur saya).

Namun di tengah lautan yang tidak bersinyal, kami semua menikmati keberadaan masing2 diri kami sendiri, dan tentunya, menikmati alam nan indah luar biasa. Mulai dari laut yang biru, pantai yang bersih tak terpolusi, keindahan bawah laut sampai pemandangan kepulauan Raja Ampat dari bukit yang curam, yang ditanjaki selama kurang lebih 30 menit.

Untuk sejenak, kami lupa apa yang kami tinggalkan di Jakarta atau Timika. Pekerjaan, pasangan, masalah2, semua seolah hilang oleh indahnya suasana. Kehidupan selama 5 hari di laut, di atas kapal, berinteraksi dengan sesama penghuni kapal, bercanda, saling menunjukkan keindahan alam, sampai saling sharing pengalaman2 kita masing2 (peserta paling tua 56 tahun, yang paling muda 23 tahun).

Dalam liburan yang sejenak ini, bukan hanya rileks dan keindahan alam saja yang dinikmati, tetapi juga pembicaraan2 dan diskusi2 mengenai tempat hiburan di Jakarta, perempuan, kadang relationship, sehingga terjalin ikatan yang kuat diantara kami semua.

Rutinitas. Liburan adalah upaya untuk keluar dari rutinitas. Di kapal, sambil duduk mengopi, saya memandang jauh ke depan memikirkan kehidupan yang saya tinggalkan di Jakarta. Macet, kerja, olah raga, keluh kesah. Lupa semua masalah untuk sejenak di kapal ini.

Kebetulan juga, hobby saya yang satu ini selalu membuka kesempatan saya untuk ketemu dengan orang2 baru yang mempunyai interest yang sama: menyelam. Beragam profesi manusia saya temui setiap saya mengikuti trip2 menyelam dengan segala kemenarikan dan variasi hidupnya.

Beragam sifat manusia saya temui yang membuat diri kita kaya. Ini yang saya sukai dari liburan yang tidak hanya sekedar jalan2, foto2 mengumpulkan barang bukti sudah sampai di suatu tempat, atau belanja gila2an. Liburan yang sukses bagi saya adalah liburan dimana berinteraksi dengan orang2 yang memperkaya diri kita mengenai hal2 yang baru.

Jadi, intinya, cobalah pergi berlibur selama masih bisa mengambil cuti dari kantor. Lakukanlah perjalanan untuk melupakan sejenak rutinitas hidup. Bersantai, kumpul bersama teman2, bertemu kenalan2 baru. Kali2 ketemu orang yang pernah mengalami hal2 yang sama seperti kita sehingga bisa bertukar pikiran.

Syukur2 ketemu teman yang nantinya menjadi teman dekat, bahkan pasangan hidup. Hidup akan terasa lebih ringan dengan ketemu orang2 baru; kadang cara kita memandang hidup menjadi berubah walaupun sedikit setelah liburan.

Memang untuk orang yang single seperti saya, waktu untuk liburan menjadi lebih mudah dibandingkan dengan mereka yang mempunyai keluarga, karena saya tidak perlu menyesuaikan diri dengan jadwal liburan sekolah ataupun cuti pasangan. Ibaratnya, paling cuti pembantu saja yang musti disesuaikan kalau mau berangkat cuti.

Tetapi cobalah ambil cuti beberapa hari saja ke tempat dengan suasana yang baru dan lingkungan baru. Lakukan hal2 yang baru dengan kenalan2 yang baru. Sebagai seorang single yang sehari2 sendiri, liburan seperti ini sangat membantu membuat pikiran kita positif.

Sebenarnya, weekend sekalipun dapat menjadi liburan yang bermakna. Coba deh, sekali2 melakukan sesuatu yang lain di satu weekend. Walau hanya dua malam, bisa menyegarkan pikiran.


Satu hal yang sering dilakukan oleh rekan2 yang single adalah tidak pergi cuti atau menghibur diri karena status single-nya. Karena takut sendirian. Wah. Jangan sampai status single menjadi penghalang untuk menghalangi dan menikmati rahmat dan karunia dari Tuhan. Justru karena masih single maka gunakan kesempatan untuk cuti sebaik2nya.

Cari teman yang single juga untuk menghabiskan masa liburan dengan berkesan. Tentunya teman yang mempunyai kesukaan yang sama dan dapat ditolerir kebiasaan2nya, apalagi kalau share kamar. Jangan takut sendirian. Beberapa kali saya pergi berlibur dan mendaftarkan diri dalam trip tanpa tahu siapa saja yang ikut dalam trip.

Tim Wayag. Bertemu teman2 baru.
Liburan itu penting, bagi semua orang, liburan itu penting karena menghentikan sejenak rutinitas kita sehari2. Rutinitas yang kadang membawa kita kepada kejenuhan dan rasa frustrasi. Kehidupan yang monoton menjadi lebih berwarna jika dalam beberapa saat kita melakukan sesuatu yang berbeda, dalam suasana yang berbeda.

Bisa mencairkan kekakuan diri maupun sesama. Bagi saya yang single ini, kadang suka merasa ingin melepaskan lelah dan kesendirian dalam kehidupan sehari2. Bertemu dengan orang2 baru, melakukan kegiatan yang disukai, beraktivitas yang lain dari hari2 biasa membuat jiwa lebih segar dan siap untuk menghadapi rutinitas berikutnya. Dengan berlibur juga sejenak melupakan atau menunda menyelesaikan masalah dengan menjernihkan otak yang sudah jenuh.

Ketemu kenalan2 baru memperkaya kehidupan kita. Suasana yang indah dan pemandangan yang bagus membuat kita bersyukur bahwa kita masih bisa menikmati karunia-Nya yang tidak ada habisnya. Paling tidak, liburan kali ini buat saya benar2 menyeimbangkan mental yang sudah lelah dengan kehidupan kota besar yang ramai namun sepi. Delapan hari bersama teman2 sehobby merupakan kesegaran rohani tersendiri.

Jadi, kapan jadwal liburan berikutnya?

2/07/2016

Antara Cerai dan Cinta

Pagi2 baca status2 facebook sambil nyeruput kopi, tiba2 ada yang statusnya berubah dari seorang teman lama: “Fulan is now single”. Lha?!

Antara Cerai dan Cinta

Walau sudah beberapa kali mengikuti teman yang dihadiri pernikahannya terus mengikuti proses cerainya, tetap saja mendengar khabar cerai masih suka rada kaget. Ngga kaget2 banget karena saya sendiri cerai sehingga saya tahu cerai itu sesuatu yang mungkin terjadi di sekitar saya, mungkin juga karena teman2 saya banyak yang statusnya sudah single kembali, tetapi ‘rada’ kaget karena sedikit banyak saya agak menyayangkan kok bisa dia juga cerai ya…

Kalau saya pikir2 kenapa teman2 saya ini cerai, alasannya banyak. Ada yang alasannya orang ke-tiga. Ini mungkin yang paling banyak. Kemudian disusul dengan sudah tidak cocok, inconsolable differences kalau bahasa Hollywoodnya. Ada yang bilang, “Sudah ngga cinta lagi”, yang kemudian biasanya dibalas dengan, “Ya, kalau sudah kawin lama kan cinta juga hilang”.

Duuuh, sedih banget. Nah kalau sudah tidak cinta lagi kok ya masih kawin? Saya mungkin orang yang amat sangat romantis sehingga beranggapan kalau yang namanya hidup bersama itu harus dengan cinta. Mungkin karena perkawinan saya sendiri dulu kandas karena tidak didasarkan oleh cinta, sehingga saya merasa cinta adalah fondasi dari kesepakatan untuk hidup bersama. Apa enaknya hidup bersama, tidur bersama dengan orang yang kita tidak cintai?

Saya bahas kasus teman saya yang baru2 ini curhat ke saya, yang saya geleng2 kepala luar biasa mendengar ceritanya. Teman saya, sebutlah namanya Ali, sudah menikah 6 tahun dengan istrinya. Perkawinannya tidak harmonis sama sekali, karena istrinya punya pacar.

Bahkan, kadang istrinya malah nginep di rumah pacarnya, pergi liburan dengan pacarnya, dan anehnya, cerita pula sama si Ali ini kalau dia baru pergi sama pacarnya. Kadang dia cerita bahwa dia tidak habis pikir kok ya istrinya bisa begitu. Saya tanya, apa sudah diomongin, dia bilang, “Mungkin itu hanya satu fase, mungkin nanti dia akan kembali ke saya. Gemana ya, saya masih cinta sih, saya masih mengharapkan dia kembali biar bagaimanapun”.

Ada lagi teman saya, sebutlah namanya Dandi, yang istrinya mempunyai pacar juga. Dandi sangat patah hati ketika istrinya mengatakan bahwa dia sudah lama tidak mencintainya. Tetapi Dandi malah bisa lho, ketemu sama pacar suaminya dan bilang, “Kamu jangan nyakitin istri saya ya”, bukannya ditonjok mati2an.

Mereka masih menikah, masih bareng karena ada anak (memang anak selalu menjadi alasan kenapa dua orang manusia masih bersama, ya), tetapi kalau cuti sekarang mereka sendiri2, walau tinggal seatap tetapi tidak melakukan hal2 bersama sebagaimana pasangan. Waktu saya tanya apakah mereka akan tetap bersama, Dandi hanya bilang tidak tahu. Beberapa bulan berlalu, status mereka berdua masih hidup bersama tetapi tidak bersama. Bener2 statusnya it’s complicated kalau di facebook.

Saya suka merasa kasihan sama dua orang manusia yang tidak bisa hidup bersama walaupun saling mencintai. Baru2 ini orang kantor saya ada yang kawin lari, tidak peduli dengan ketidak setujuan orangtua mereka yang menentang mereka untuk menikah bersama karena beda agama. Wah, saya salut. Wah, romantis banget. Bukankah cinta diajarkan oleh tiap agama? Kenapa juga agama harus memisahkan dua orang yang saling mencintai? Mungkin ini pertanyaan yang konyol dan naif, tapi ya, kalau cinta, apa salahnya?

Saya kadang lebih kasihan lagi dengan dua orang manusia yang harus bertahan menikah walaupun tidak cinta karena salah satu mempunyai posisi lemah. Biasanya, yang lemah tidak mempunyai kedudukan finansial yang cukup untuk hidup sendiri. Atau, salah satunya terlena dengan status sosial yang sudah bagus, atau malu kalau menjadi single kembali. Apalagi kalau dalam perkawinannya dihiasi dengan kekerasan rumah tangga.

Aduuuuh….seolah-olah dia tidak pantas untuk diperlakukan dengan lebih baik, seolah dia tidak berhak untuk memperoleh ungkapan cinta yang lebih wajar. Setidaknya, mereka bertahan menikah dan berharap bahwa cinta yang pernah ada (kalau pernah) akan tumbuh kembali (atau tumbuh walaupun cinta tidak pernah ada).

Yang cintanya sudah hilang masih berharap untuk tumbuh kembali rupanya. Tapi sedih sekali, kalau harus hidup bersama dengan orang yang tidak kita cintai.

Kalau saya, satu2nya alasan kalau saya akan bersama seorang laki2 adalah, karena saya cinta sama dia. Karena, secara materi, saya sudah cukup. Lagian saya juga sudah pernah kawin, jadi tidak perlu status istri. Status janda juga tidak terlalu mengganggu, wong teman2 saya juga banyak aja yang janda atau duda.

Anak juga tidak menjadi motivasi untuk kawin, wong umur juga sudah 43. Jadi satu2nya alasan saya kalau mau hidup dengan orang lain adalah karena saya cinta sama dia. Karena kalau sama dia, hidup saya akan lebih berwarna dan lebih membawa kebaikan dan berkah.

Dan kalau bisa, cintanya jangan cepat hilang. Jangan hilang, tetapi tetap ada, dan kalau bisa tumbuh terus. Mudah2an ngga muluk.